
Oleh: Achmad Tshofawie, Kordinator ECOFITRAH; Keluarga ICMI dan FKPPI
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Air adalah fondasi seluruh kehidupan. Tidak ada peradaban yang lahir tanpa air, dan tidak ada ekosistem yang bertahan tanpa siklus hidrologi yang sehat. Namun, di balik air yang mengalir di sungai atau memancar dari mata air, terdapat komponen alam yang sering luput dari perhatian manusia: batuan.
Dalam pandangan awam, batu hanyalah material keras yang dapat dipotong, dipecah, atau ditambang. Akan tetapi, Al-Qur'an justru menghadirkan perspektif yang sangat berbeda. Batu bukan sekadar benda mati, melainkan bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah yang bahkan dapat menjadi media keluarnya air dan sungai. Perspektif ini tampak jelas dalam QS Al-Baqarah ayat 60 dan ayat 74.
Kajian ini tidak bermaksud menjadikan Al-Qur'an sebagai buku geologi, apalagi memaksakan penemuan ilmiah ke dalam tafsir ayat. Sebaliknya, tulisan ini mengajak pembaca melihat bagaimana ilmu hidrogeologi modern dapat menjadi sarana untuk semakin memahami ayat-ayat kauniyah Allah yang terbentang di alam semesta.
QS Al-Baqarah ayat 60 mengisahkan ketika Nabi Musa AS memohon air bagi kaumnya yang kehausan. Allah kemudian memerintahkan beliau memukul batu dengan tongkatnya. Atas kehendak Allah, memancarlah dua belas mata air sehingga setiap suku mengetahui tempat minumnya.
Mukjizat tersebut tentu berada di luar hukum alam biasa. Air tidak keluar karena tongkat Nabi Musa memiliki kekuatan tertentu, melainkan semata-mata karena kehendak Allah SWT. Namun demikian, menarik bahwa Allah memilih batu sebagai media munculnya air. Ayat ini kemudian ditutup dengan perintah yang sangat penting: "...Makan dan minumlah dari rezeki Allah, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi."
Pesan moral tersebut menunjukkan bahwa karunia air selalu diikuti dengan amanah menjaga bumi. Lebih menarik lagi adalah QS Al-Baqarah ayat 74. Setelah menggambarkan kerasnya hati sebagian Bani Israil, Allah berfirman:
"Sesungguhnya di antara batu-batu itu ada yang darinya memancar sungai-sungai; ada pula yang terbelah lalu keluarlah air darinya; dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah". Ayat ini bukan sedang menjelaskan mukjizat, melainkan menggunakan fenomena batu sebagai pelajaran moral. Namun, secara bersamaan, ayat tersebut juga mengundang manusia untuk memperhatikan kenyataan alam: ada batu yang berkaitan dengan munculnya air, bahkan sungai. Dalam perspektif hidrogeologi modern, fenomena tersebut sangat menarik.
Hidrogeologi adalah cabang ilmu yang mempelajari hubungan antara batuan, tanah, dan air tanah. Salah satu konsep utamanya adalah akuifer, yaitu lapisan batuan yang mampu menyimpan dan mengalirkan air tanah. Akuifer dapat berupa pasir, kerikil, batu pasir, batuan vulkanik berrekahan, maupun batu kapur yang mengalami proses pelarutan (Freeze & Cherry, Groundwater, 1979).
Di sinilah kawasan karst memiliki posisi yang sangat penting. Istilah "karst" berasal dari kawasan Kras Plateau di Slovenia dan Italia yang menjadi laboratorium alam bagi para ahli geologi Eropa sejak abad ke -19. Air hujan yang sedikit asam melarutkan batu kapur selama ribuan hingga jutaan tahun sehingga terbentuk rekahan, lorong bawah tanah, gua, dan sungai bawah tanah. Sistem ini bekerja seperti spons raksasa: menyerap air hujan, menyimpannya, lalu melepaskannya perlahan melalui mata air (Ford & Williams, Karst Hydrogeology and Geomorphology, Wiley, 2007).
Fenomena inilah yang menjelaskan mengapa banyak mata air besar di dunia muncul dari kawasan karst. Contohnya terdapat di Škocjan Caves, Slovenia. Sungai Reka menghilang ke bawah tanah, mengalir melalui sistem gua yang sangat panjang, kemudian muncul kembali sebagai mata air pada lokasi lain. Kawasan ini dilindungi sebagai Warisan Dunia UNESCO karena nilai geologi, hidrologi, dan ekologinya.
Contoh lain berada di kawasan Swabian Alb, Baden-Württemberg, Jerman. Mata air Blautopf di Blaubeuren dan Aachtopf di Aach merupakan hasil pelepasan air dari sistem akuifer karst yang sangat luas. Penelitian hidrogeologi menunjukkan adanya hubungan antara air yang hilang di Sungai Danube dengan mata air Aachtopf melalui jaringan rekahan batu kapur (Geopark Swabian Alb; Ford & Williams, 2007).
Indonesia pun memiliki bentang karst yang tidak kalah penting, antara lain Gunung Sewu, Maros-Pangkep, Pegunungan Kendeng, dan Citatah di Jawa Barat. Kawasan-kawasan ini tidak hanya menyimpan cadangan batu kapur, tetapi juga berfungsi sebagai daerah imbuhan (recharge area) dan penyimpan air tanah yang menopang kehidupan masyarakat (Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral).
Namun, hidrogeologi tidak hanya berbicara tentang batu kapur. Batuan vulkanik yang banyak dijumpai di Indonesia juga mempunyai fungsi hidrologi yang luar biasa. Rekahan pada batuan andesit, basalt, maupun lava tua mampu menjadi jalur infiltrasi air hujan dan membentuk akuifer produktif. Banyak mata air di lereng gunung api Pulau Jawa muncul melalui sistem batuan vulkanik yang telah mengalami rekahan alami (Todd & Mays, Groundwater Hydrology, 3rd Edition, 2005).
Artinya, batu bukan sekadar material geologi. Ia adalah bagian dari infrastruktur hidrologi bumi.
Dalam konteks ini, QS Al-Baqarah ayat 74 terasa semakin menggugah. Allah tidak hanya menyebut adanya batu yang mengeluarkan air, tetapi bahkan batu yang memancarkan sungai-sungai. Hidrogeologi modern menunjukkan bahwa banyak sungai memang berawal dari pelepasan air tanah melalui mata air besar yang bersumber dari sistem akuifer karst atau batuan berrekahan. Ilmu membantu manusia memahami sebagian mekanisme ciptaan Allah yang menjadi objek tadabbur.
Kesadaran ini semestinya mengubah cara manusia memandang kawasan berbatu. Selama ini, nilai sebuah bukit lebih sering dihitung berdasarkan volume batu yang dapat ditambang. Padahal terdapat nilai lain yang jauh lebih besar, yaitu jasa ekosistem hidrologi. Sebuah bukit karst dapat menyimpan jutaan meter kubik air, mengurangi banjir, mempertahankan debit sungai pada musim kemarau, serta menyediakan air bersih bagi masyarakat. Nilai tersebut sering kali tidak masuk dalam perhitungan ekonomi konvensional (Millennium Ecosystem Assessment, Ecosystems and Human Well-being, 2005).
Karena itu, sejumlah negara mulai mengubah paradigma pengelolaan kawasan karst. Di Slovenia, kawasan Kras dan Škocjan Caves dipertahankan sebagai kawasan konservasi, penelitian, pendidikan, dan ekowisata. Aktivitas ekonomi tetap berlangsung, tetapi tidak mengorbankan fungsi hidrologinya.
Di Jerman, banyak kawasan karst di Baden-Württemberg ditempatkan dalam Wasserschutzgebiete atau zona perlindungan air minum. Aktivitas yang berpotensi mencemari atau merusak sistem akuifer dibatasi secara ketat agar pasokan air tetap terjaga bagi masyarakat.
Di Indonesia, pendekatan serupa mulai diterapkan pada beberapa kawasan karst strategis melalui penetapan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK). Meskipun implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan, arah kebijakannya menunjukkan semakin besarnya kesadaran bahwa batu bukan hanya sumber mineral, tetapi juga penyimpan air kehidupan.
Refleksi
Sesungguhnya QS Al-Baqarah ayat 60 dan 74 mengajarkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kisah tentang batu dan air. Kedua ayat tersebut mengubah cara pandang manusia terhadap alam.
Manusia modern sering memandang batu sebagai komoditas. Al-Qur'an mengajak manusia melihat batu sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah. Hidrogeologi kemudian menunjukkan bahwa di balik kekerasannya, batu justru menyimpan kelembutan berupa air yang menghidupi seluruh makhluk.
Mungkin inilah ironi terbesar zaman ini. Kita begitu mahir menghitung cadangan batu, tetapi belum cukup bijaksana menghitung cadangan air yang disimpannya. Kita mampu memperkirakan nilai tambang dalam rupiah, tetapi sering gagal menghitung nilai mata air yang menghidupi desa-desa selama ratusan tahun.
Rekomendasi
Pertama, setiap izin pertambangan di kawasan berbatu, terutama karst dan daerah imbuhan air, harus didahului pemetaan hidrogeologi secara komprehensif menggunakan metode seperti Electrical Resistivity Tomography, tracer test, dan pemodelan akuifer.
Kedua, pemerintah perlu menjadikan fungsi hidrologi sebagai salah satu indikator utama dalam penyusunan tata ruang dan kebijakan pertambangan, sehingga kawasan penyimpan air memperoleh perlindungan yang memadai.
Ketiga, perguruan tinggi perlu memperkuat riset lintas disiplin antara tafsir Al-Qur'an, geologi, hidrogeologi, ekologi, dan ekonomi lingkungan agar lahir paradigma pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan ciptaan Allah.
Keempat, masyarakat perlu membangun kesadaran baru bahwa setiap bukit berbatu mungkin sedang menjalankan fungsi yang tidak tampak oleh mata: menyimpan air untuk masa depan.
Pada akhirnya, QS Al-Baqarah ayat 60 dan 74 tidak hanya mengajarkan kita untuk mengagumi mukjizat Allah. Kedua ayat tersebut juga mengajarkan etika membaca alam. Ketika ilmu hidrogeologi menjelaskan bagaimana batu menyimpan dan melepaskan air, manusia semakin memahami bahwa wahyu dan alam sama-sama mengajak kepada satu kesimpulan: kehidupan sering kali memancar dari tempat yang paling tidak kita duga. Tugas manusia adalah menjaganya, bukan merusaknya.
Wallahu'alam.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
.png)
15 hours ago
4





































