REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang kian masif di kalangan pelajar mulai memunculkan kekhawatiran baru terkait penurunan kemampuan berpikir kritis. Akademisi mengingatkan, ketergantungan berlebihan terhadap AI berpotensi menimbulkan apa yang disebut sebagai cognitive debt hingga “penyerahan kognitif”.
Hal ini mengemuka dalam workshop edukasi teknologi yang digelar Program Studi Teknik Informatika Universitas YARSI bersama siswa dan guru SMAN 72 Jakarta, belum lama ini.
Dekan Fakultas Teknologi Informasi Universitas YARSI, Ummi Azizah, menilai generasi muda perlu dibekali pemahaman yang lebih dalam terkait dampak penggunaan AI, tidak hanya dari sisi manfaat, tetapi juga risikonya.
“AI memang membuka banyak peluang, tetapi tanpa pemahaman yang tepat, ada potensi penurunan kualitas berpikir dan kemandirian belajar,” ujar Ummi.
Pakar pendidikan teknik dari Central University of Technology Afrika Selatan, Prof James Swart, menyoroti fenomena cognitive surrender, yakni kecenderungan pengguna menerima begitu saja informasi dari AI meskipun belum tentu benar.
Selain itu, ia juga mengingatkan adanya risiko cognitive debt, yaitu penurunan kemampuan berpikir kritis akibat ketergantungan jangka panjang terhadap AI.
“Penggunaan AI tanpa keterlibatan aktif dapat menurunkan aktivitas saraf hingga 47 persen dan melemahkan keterikatan mental dalam proses belajar,” kata James.
Menurut dia, AI seharusnya tidak menggantikan proses berpikir manusia, melainkan menjadi alat bantu. Ia mendorong pendekatan penggunaan AI yang tetap menempatkan manusia sebagai aktor utama dalam proses belajar.
Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah metode CIAO, yakni memahami kriteria tugas, memanfaatkan AI untuk eksplorasi awal, kemudian menyusun jawaban dengan kata-kata sendiri sebelum menggunakan AI sebagai alat penyempurna.
Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan penguatan kapasitas kognitif siswa.
Fenomena ini juga menjadi tantangan bagi dunia pendidikan dalam merumuskan batasan etika penggunaan AI di lingkungan sekolah. Guru dituntut menyesuaikan metode pembelajaran dan evaluasi agar tetap mendorong orisinalitas serta daya pikir kritis siswa di tengah kemudahan teknologi.
Di sisi lain, literasi AI yang tidak hanya teknis tetapi juga etis menjadi kunci agar pemanfaatan teknologi tidak justru melemahkan kualitas pembelajaran.
.png)
4 hours ago
2















































