OLEH Dr. Anang Martoyo (Ketua Career Center Cyber University)
REPUBLIKA.CO.ID, Dunia kerja tidak lagi mengenal batas geografis. Perusahaan dari berbagai negara kini dapat mencari talenta terbaik tanpa harus terpaku pada lokasi. Kondisi ini membuat mahasiswa dituntut memiliki kompetensi yang mampu bersaing di tingkat global.
Perguruan tinggi tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan akademik dan gelar, tetapi juga perlu membuka ruang yang lebih dekat dengan kebutuhan industri. Kolaborasi pendidikan dan industri menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan talenta muda tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu melihat peluang karier di tingkat internasional.
Perguruan tinggi perlu melihat kesiapan kerja mahasiswa sebagai bagian penting dari proses pendidikan, bukan sekadar tahap yang dimulai setelah wisuda. Perubahan kebutuhan industri membuat kompetensi yang dicari perusahaan ikut berkembang. Karena itu, pembelajaran di kampus perlu memiliki keterkaitan dengan persoalan dan tuntutan dunia kerja yang sebenarnya.
Kolaborasi dengan pelaku industri dapat menjadi salah satu cara untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman profesional. Kolaborasi tersebut sekaligus memberi mahasiswa gambaran mengenai standar kompetensi yang dibutuhkan. Dengan pendekatan tersebut, kampus tidak hanya menjadi tempat memperoleh gelar, tetapi juga ruang untuk membangun kesiapan menghadapi persaingan kerja yang semakin terbuka secara global.
Gagasan tersebut dapat dilihat dari langkah Cyber University yang mulai memperluas hubungan pendidikan dengan industri internasional. Dalam ajang Indonesia-China Education–Industry Collaboration Summit 2026, Cyber University menjalin kerja sama rekrutmen dengan lebih dari 15 perusahaan asal China. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa hubungan antara perguruan tinggi dan industri dapat membuka ruang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk mengenal kebutuhan serta peluang kerja di tingkat global.
Kesempatan tersebut kemudian terlihat dari pengalaman lima mahasiswa Cyber University yang mempresentasikan karya mereka di hadapan praktisi industri dan mengikuti asesmen rekrutmen secara langsung. Bimo Yunda dari Kewirausahaan, Muhammad Zidan dari Teknologi Informasi dan Sistem, Fakhri Rasyid dari Sistem dan Teknologi Informasi, Muhammad Kayyis dari Bisnis Digital, serta Ikhwan Nusafa dari Sistem Informasi menjadi bagian dari pengalaman tersebut.
Keterlibatan mereka memperlihatkan bahwa mahasiswa dapat mulai mengenal proses dan ekspektasi industri sejak masih berada di bangku kuliah. Pengalaman seperti ini menjadi bekal penting untuk membangun kepercayaan diri sekaligus memahami kompetensi yang dibutuhkan ketika memasuki persaingan kerja global.
Namun, kolaborasi dengan industri seharusnya tidak berhenti pada pembukaan peluang rekrutmen. Perguruan tinggi perlu memastikan mahasiswa memperoleh pengalaman, kompetensi, dan pemahaman tentang kebutuhan industri yang terus berubah. Dengan begitu, hubungan kampus dan industri dapat benar-benar menjadi bagian dari proses membentuk talenta yang siap bersaing di pasar kerja global.
Pada akhirnya, kampus perlu bergerak lebih jauh dari sekadar mencetak lulusan dengan gelar. Keterhubungan dengan industri menjadi bagian penting dalam membentuk talenta yang mampu memahami kebutuhan dunia kerja dan beradaptasi dengan persaingan global.
Cyber University melalui kolaborasi dengan industri internasional menunjukkan bahwa kesempatan tersebut dapat mulai dibangun sejak mahasiswa masih berada di bangku kuliah. Pendidikan yang mampu mempertemukan pengetahuan, pengalaman, dan kebutuhan industri akan menjadi bekal penting bagi lahirnya talenta digital yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap bersaing di tingkat global.
.png)
2 hours ago
1
















































