Kampus Didorong Integrasikan AI dalam Pendidikan Kewirausahaan

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Perkumpulan Program Studi Kewirausahaan Indonesia (APSKI) mendorong perguruan tinggi mengintegrasikan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) dalam pendidikan kewirausahaan. Langkah tersebut dinilai diperlukan agar lulusan tidak hanya mampu membangun usaha, tetapi juga lebih adaptif terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan dunia usaha.

Ketua Umum APSKI Sonny Rustiadi mengatakan, pendidikan kewirausahaan tidak lagi cukup mengajarkan cara memulai bisnis. Menurut dia, kampus harus membekali mahasiswa dengan kemampuan mengidentifikasi persoalan, menggali potensi daerah, dan mengembangkan solusi yang memiliki nilai ekonomi.

“Mahasiswa harus dibimbing untuk menemukan persoalan yang spesifik di daerahnya, mengembangkan solusi yang relevan, mengujinya ke pasar, dan membawa inovasi dari kampus menjadi usaha yang memberikan manfaat nyata,” kata Sonny dalam keterangannya, Ahad (26/7/2026).

Sonny mengatakan, pembelajaran kewirausahaan perlu diarahkan pada pendekatan berbasis proyek, pengalaman lapangan, penelitian terapan, serta penyelesaian persoalan nyata. Menurut dia, pendekatan tersebut juga perlu didukung kolaborasi antarkampus, penguatan inkubator bisnis, serta akses terhadap teknologi, pembiayaan, dan pasar.

Komitmen tersebut menjadi salah satu agenda Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III APSKI yang digelar di Bali pada 22–24 Juli 2026. Kegiatan itu diikuti pimpinan dan pengelola program studi kewirausahaan dari 49 perguruan tinggi di Indonesia, praktisi, serta mitra nasional dan internasional.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Badri Munir Sukoco mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam melahirkan pengusaha dan perusahaan rintisan baru. Menurut dia, kampus perlu membangun ekosistem yang mendukung lahirnya pencipta lapangan kerja melalui riset, laboratorium, inkubator bisnis, mentor, dunia usaha, lembaga pembiayaan, pemerintah, dan jejaring alumni.

Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM M. Riza Damanik mengatakan, pendidikan kewirausahaan perlu terus disesuaikan dengan perkembangan teknologi, kebutuhan dunia usaha, potensi daerah, dan agenda pembangunan nasional.

“Kita tidak mengharapkan seluruh lulusan menjadi pengusaha. Namun, setiap lulusan perlu memiliki pola pikir kewirausahaan: peka melihat persoalan, kreatif menemukan solusi, berani mengambil keputusan secara terukur, mampu berkolaborasi, dan tangguh menghadapi perubahan,” kata Riza.

Menurut Riza, pendekatan tersebut sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2026 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional yang menjadi pedoman dalam membangun ekosistem kewirausahaan nasional.

Selain Rakernas, APSKI menggelar International Conference on Entrepreneurship yang menghadirkan akademisi dari Indonesia, Inggris, Korea Selatan, Australia, dan Belanda. Organisasi tersebut juga meluncurkan dua jurnal ilmiah, yakni Journal APSKI Entrepreneurship dan Journal APSKI PKM, mengesahkan kepengurusan APSKI Bali-Nusa Tenggara, serta memfasilitasi penandatanganan nota kesepahaman dan letter of intent antara perguruan tinggi anggota APSKI dengan sejumlah universitas luar negeri.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |