REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Industri rantai pendingin atau cold chain di Indonesia dinilai memiliki prospek yang sangat besar seiring perubahan pola konsumsi masyarakat dan berkembangnya sektor logistik modern. Hal ini mengemuka dalam sebuah talkshow yang menghadirkan Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kementerian Perhubungan RI M Risal Wasal, Chief Innovation Officer PT Trimitra Trans Persada Tbk (Gerry Ardian), dan Sales and Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (Aji Jaya) sebagai pembicara di booth Fuso GIICOMVEC 2026, JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Risal menegaskan, kebutuhan cold chain kini semakin luas dan menjadi bagian penting dari sistem logistik nasional. “Dulu kita ragu mengirim produk makanan jarak jauh. Sekarang, dengan perkembangan teknologi dan pola konsumsi seperti frozen food dan cloud kitchen, kebutuhan rantai pendingin menjadi semakin krusial,” ujarnya.
Menurutnya, potensi cold chain tidak hanya berada di sektor makanan olahan, tetapi juga mencakup hasil perikanan, pertanian, hingga kawasan industri dan pariwisata. Indonesia yang memiliki banyak kawasan ekonomi khusus, daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), hingga sentra kelautan membutuhkan sistem distribusi berpendingin agar kualitas produk tetap terjaga.
Pemerintah pun telah menyiapkan berbagai dukungan, mulai dari regulasi, standardisasi kendaraan, hingga konsep angkutan multimoda berbasis satu dokumen untuk meningkatkan efisiensi logistik. “Dengan sistem multimoda ini, efisiensi biaya logistik bisa mencapai 35 persen,” kata Risal.
Namun demikian, tantangan masih besar. Salah satunya adalah keterbatasan infrastruktur pendukung seperti ketersediaan listrik untuk kontainer berpendingin di kapal, sinkronisasi jadwal antar moda transportasi, serta keterbatasan kapasitas angkut. Selain itu, standar keselamatan dan daya dukung jalan juga menjadi perhatian penting dalam pengoperasian kendaraan cold chain.
Dari sisi pelaku usaha, Gerry Ardian menilai peluang bisnis cold chain sangat menjanjikan, tetapi membutuhkan kesiapan menyeluruh. “Ada dua hal utama yang kami butuhkan, yakni dukungan kebijakan dan infrastruktur. Regulasi sudah sangat mendukung, tetapi infrastruktur di lapangan masih menjadi tantangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan lain adalah menjaga kualitas produk sepanjang distribusi, terutama di fase transportasi. “Di gudang kita bisa kontrol dengan sistem dan teknologi. Tapi saat di perjalanan, risiko seperti gangguan mesin atau suhu menjadi tantangan besar,” katanya.
Sebagai perusahaan logistik berbasis third party logistics (3PL), B-Log terus melakukan ekspansi melalui tiga pilar utama, yakni perluasan jaringan gudang, penguatan armada transportasi, dan pengembangan sistem digital untuk menjaga kualitas distribusi.
.png)
2 hours ago
2
















































