Oleh Fitriyan Zamzami, jurnalis Republika
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Rencana Iran mengenakan tarif bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz menyusul serangan AS-Israel sejak Februari lalu dikhawatirkan menimbulkan riak bagi aturan maritim dunia. Ada ketakutan hal itu akan memicu pemajakan di titik cekik jalur laut lainnya seperti Selat Malaka yang punya titik lebih sempit dari Hormuz dan lebih sibuk.
Menurut perkiraan sebagian pihak, pendapatan Iran dari penerapan tarif melintas Hormuz bisa mencapai 80 miliar dolar AS per tahun, jauh lebih banyak dari pendapatan ekspor migas Iran. Dengan Selat Malaka yang relatif lebih sibuk, bahkan lebih banyak yang bisa didapat negara yang memajakinya. Bisakah hal itu dilakukan?
Sampai saat ini, kapal-kapal tidak membayar bea masuk jika menggunakan jalur air sepanjang 1.000 kilometer yang membentang antara Indonesia di selatan dan Malaysia dan Singapura di utara. Selat tersebut merupakan jalur utama kapal antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.
Merujuk Modern Diplomacy, pada titik tersempitnya, Selat Malaka lebarnya kurang dari 2,5 kilometer dan kedalamannya hanya 23 meter, terletak antara Singapura dan Kepulauan Riau. Ini lebih sempit dari titik tersempit Hormuz yang mencapai 39 kilometer antara Iran dan Oman.
Kendali atas titik sempit di Malaka ini masih diperebutkan, dan perairannya tumpang tindih dengan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia, Malaysia, dan Singapura—tidak ada satupun yang sepenuhnya mengakui klaim satu sama lain.
Setiap tahun, perdagangan senilai 3,5 triliun dolar AS (sekitar Rp 54 kuadriliun) —setara dengan sepertiga PDB global— melewati Selat Malaka. Sementara 29 persen distribusi minyak global melalui selat itu, lebih banyak dari Hormuz pada angka sekitar 20 persen.
Produsen utama Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) Teluk Persia, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, menyumbang hampir 60 persen minyak mentah yang bergerak melalui Selat Malaka pada 2025.
Saat ini, meski tak ada tarif melintasi Selat Malaka, Singapura jadi negara yang untung besar terkait jalur itu, mencapai 25 miliar dolas AS per tahun alias Rp 387 triliun. Keuntungan ini didapatkan dari penyediaan pelabuhan kontainer bongkar muat, pengisian bahan bakar, dan pelayanan logistik maritim lainnya.
Ini belum termasuk keuntungan Singapura sebagai hub migas dunia di Selat Malaka. Malaysia dan Indonesia sejauh ini tertinggal dari Singapura dalam memanfaatkan posisi strategis di Selat Malaka ini.
.png)
9 hours ago
2















































