Harga Plastik Naik 300 Persen dan Cekik UMKM, Disperindag Jateng: Kami Belum Terima Aduan

3 hours ago 2

Pedagang menunjukkan kantong plastik di salah satu toko plastik di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, Kamis (2/4/2026). Harga berbagai produk berbahan plastik mengalami kenaikan di sejumlah daerah dengan lonjakan yang cukup tinggi. Menurut pedagang, kenaikan harga mencapai hingga 80 persen, dengan rata-rata kenaikan berkisar antara Rp8.000 hingga Rp10.000. Sebagai contoh, harga kantong kresek ukuran 24 naik dari Rp13.000 menjadi Rp20.000 per pak. Kenaikan tersebut terjadi secara bertahap dalam tiga minggu terakhir. Penyebab utamanya adalah gangguan pasokan bahan baku dari Timur Tengah akibat konflik, yang menghambat impor nafta yang merupakan produk turunan minyak bumi.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) July Emmylia mengungkapkan harga plastik telah mengalami kenaikan 300 persen di penyuplai lokal. Namun dia menyebut, perusahaan-perusahaan belum menaikkan harga. Disperindag Jateng. July pun mengeklaim belum ada warga yang melapor ke Disperindag Jateng soal kenaikan harga produk plastik. 

"Kalau plastik, kan memang bahan bakunya kita impor. Itu memang ada kenaikan sampai dengan 300 persen di supplier lokal," kata July ketika dihubungi, Selasa (7/4/2026). 

Namun July mengeklaim, saat ini perusahaan masih belum menaikkan harga produk plastik. "Perusahaan-perusahaan masih bisa menekan harga, jadi belum menaikkan harga. Caranya melalui apa? Mereka melakukan penghematan internal," ucapnya.

July mengatakan, informasi tersebut diperolehnya setelah melakukan pengecekan ke tiga penyuplai lokal di Indonesia. Selain itu, July menambahkan, keputusan perusahaan tak menaikkan harga produk plastik juga karena mereka masih memiliki stok bahan baku. 

Menurut July, sejauh ini Disperindag Jateng belum menerima laporan warga soal kenaikan harga produk plastik. "Kami kan ada kanal-kanal aduan, belum ada yang mengadukan," ujarnya. 

Dia mengungkapkan, Indonesia sebenarnya memiliki bahan baku bioplastik yang berasal dari pati singkong. "Nah, di perhitungan kami, kalau menggunakan bioplastik yang berbasis pati singkong, itu malah lebih mahal sekitar 1,5 sampai dua kali lipat. Jadi malah lebih tinggi untuk beban biaya produksi," katanya. 

Menurut July, penggunaan bahan baku bioplastik berpotensi menaikkan harga pokok penjualan hingga 20 persen. 

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |