Gencatan Senjata dengan Lebanon: AS Tertekan, Israel Menyerah?

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID,TEL AVIV – Gelombang 'kemarahan' melanda Israel menyusul pengumuman gencatan senjata di Lebanon oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Para tokoh politik, pemimpin lokal, hingga media massa di Israel mengecam langkah tersebut sebagai keputusan yang meminggirkan kepemimpinan Tel Aviv.

Al Mayadeen yang merangkum berbagai pemberitaan dari sejumlah media Israel melaporkan, gencatan senjata tersebut diumumkan dari Washington bahkan sebelum adanya diskusi formal atau pemungutan suara di dalam kabinet Israel.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dikabarkan baru menginformasikan keputusan tersebut kepada para menterinya setelah pengumuman dilakukan, yang memicu kritik luas atas apa yang disebut banyak pihak sebagai "runtuhnya kedaulatan pengambilan keputusan."

Koordinasi melalui ponsel

Saluran berita Channel 13 melaporkan bahwa tidak ada pemungutan suara kabinet yang dilakukan. Netanyahu menyatakan, langkah tersebut diambil atas permintaan Donald J Trump. Sementara itu, penyiar media Israel, KAN, mencatat bahwa para menteri terpaksa melakukan diskusi darurat melalui telepon seluler standar setelah Trump mengunggah pengumuman tersebut di media sosial.

Anggota parlemen Israel, Chili Tropper, mengkritik keras cara pengumuman tersebut. Ia mengatakan, warga Israel, khususnya penduduk di permukiman utara, justru mengetahui informasi gencatan senjata melalui cuitan Trump, bukan dari pemerintah mereka sendiri. Ia menilai episode ini mencerminkan kurangnya kepemimpinan dan transparansi.

Menyerah?

Reaksi keras juga datang dari para pemimpin permukiman di wilayah utara Israel. Eitan Davidi, kepala dewan permukiman Margaliot, menggambarkan gencatan senjata ini "bukan sebuah kemenangan, melainkan rasa malu dan penyerahan diri penuh kepada Iran dan Amerika Serikat."

Senada dengan Davidi, Amit Sofer dari dewan regional Merom HaGalil mempertanyakan logika yang menghubungkan front Lebanon dengan perkembangan di Iran. Sebagai bentuk protes simbolis, sejumlah kepala dewan permukiman di utara mengancam akan mengibarkan bendera putih, yang menyimbolkan menyerahnya pemerintahan Netanyahu.

Kepala dewan Mevo’ot Hermon juga memperingatkan bahwa kelompok Hizbullah "tetap kuat dan sedang menunggu," sementara wilayah Galilea mulai ditinggalkan penduduknya akibat ketegangan yang terus berlanjut.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |