Fenomena Espanyola

11 hours ago 3

Image Ibnu Sina

Agama | 2026-07-21 06:54:08

Ketika Simbol Agama ditampakan, antara simpati dan hujatan!

Ada yang berbeda dengan perhelatan piala dunia 2026, terutama di babak final. Siapa diantara kalian yang merasa begitu?

Benar sekali, final argentina _versus_ spanyol terasa agak emosional dirasakan seluruh penduduk dunia. Bukan tentang sekedar bertemunya dua raksasa sepak bola yang sama sama pernah menduduki puncak laga, tapi tentang rasa kemanusian yang seakan memuncak, terpolarisasi antara pertarungan mereka yang peduli dan tak peduli. Apalagi kalau bukan tentang tanah yang diberkahi Palestina.

Sedikit saja keberpihakan kepada kejahatan mendapatkan respon yang begitu dahsyat, ditengah kemudahan akses informasi hari ini yang hanya sepersekian detik.

Respon para penguasa dunia yang hanya sekedar kutukan tanpa tindakan tegas terhadap pelaku genosida, mondorong luapan emosi yang tak lagi tertahankan ketika akhirnya espanyola meraih kemenangan.

Penduduk dunia boleh sujud syukur, atas kemenangan yang seakan isyarat Tuhan, membuktikan bahwa "Gusti Allah mboten sare".

Tapi dibalik gegap gempita itu, ada suatu tabir kelam yang seharusnya juga ikut disadari terutama oleh seorang muslim. Membela, mendukung, mendo'akan saudara-saudara kita yang terdzalimi di Palestina merupakan tindakan amar ma'ruf, tapi jangan pula lupakan bahwa ada kewajiban yang selalu mengiringinya, yaitu nahi munkar.

Lantas apa kira-kira aktivitas nahi mungkar yang paling prioritas harus dilakukan segera. Sadarlah wahai seluruh penduduk dunia, sungguh tabir kelam itu ternyata bukanlah tembok tinggi nan tebal yang di bangun Mesir di Rafah, atau blokade laut oleh zionist laknatullah, tabir yang menutupi hati itu bernama nation state (Ashabiyyah) yang secara sadar ataupun tak sadar meresap pelan di sanubari setiap jiwa, tak terkecuali seorang muslim.

Padahal Rasulullah SAW jauh-jauh hari telah mengingatkan betapa bahayanya faham kebangsaan ini. Namun bertolak belakang dengan apa yang terjadi hari ini. Di satu sisi kita membela saudara kita yang dibantai, di sisi lain, kita membiarkan diri kita teracuni dengan paham kebangsaan. Sehingga celah ini, dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para penjahat perang, melalui para penguasa antek yang bercokol disetiap negeri.

Bukankan kita telah menjadi saksi hidup bagaimana sikap mereka para antek, tak satupun peluru yang mengarah kepada pembelaan darah saudara kita yang bersimbah setiap menitnya.

Masihkah kita percaya bahwa euforia kebangsaan itu benar-benar jalan keluar terbaik untuk saudara kita di Palestina?

Sekali lagi, bersyukur atas kemenangan yang telah Allah takdirkan untuk Spanyol adalah bagian dari dukungan kemanusiaan yang selama ini ternodai, tetapi mengusir paham kebangsaan dari benak pikiran kita adalah hal lain yang juga wajib dilakukan. Agar tak ada lagi penguasa terutama di negeri muslim berlindung dibaliknya.

Salam saudaramu,

Ki Badai

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |