REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah menyiapkan langkah antisipatif menghadapi potensi dampak El Nino dengan memperkuat stok dan produksi pangan. Kondisi ini membuat Indonesia dinilai tetap aman di tengah ancaman krisis pangan global.
Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman mengatakan, ketahanan pangan nasional saat ini ditopang produksi dalam negeri yang kuat. Dominasi beras menjadi indikator utama dalam menjaga stabilitas pasokan.
“Krisis pangan dunia karena ada El Nino, kita bisa hadapi. Indonesia alhamdulillah, negara lain waswas. Itu berkat kebijakan Bapak Presiden. Ingat, kita sudah swasembada protein dan karbohidrat,” kata Amran yang juga Menteri Pertanian, Jumat (14/4/2026).
Amran menjelaskan, swasembada telah tercapai pada sejumlah komoditas strategis seperti beras, telur ayam ras, daging ayam, hingga jagung pakan. Komoditas hortikultura seperti bawang merah dan cabai juga menunjukkan kemandirian produksi, bahkan minyak goreng telah menembus pasar ekspor.
Struktur konsumsi masyarakat turut mendukung ketahanan pangan. Data Pola Pangan Harapan 2025 mencatat konsumsi padi-padian mencapai lebih dari 50 persen, diikuti pangan hewani 12,7 persen serta minyak dan lemak 12,4 persen.
“Swasembada itu artinya manakala suatu negara impor maksimal 10 persen dari kebutuhan. Negara ini tidak impor beras medium berarti swasembada sempurna. Kalau ada swasembada plus, ya ini di tahun ini,” ujar Amran.
Penguatan ketahanan pangan juga terlihat dari lonjakan cadangan beras pemerintah. Penyerapan produksi dalam negeri mendorong stok mencapai level tertinggi sepanjang sejarah.
Bapanas mencatat stok beras per 16 April 2026 mencapai 4,8 juta ton, terdiri dari cadangan pemerintah 4,78 juta ton dan komersial 19,9 ribu ton. Realisasi pengadaan dalam negeri telah menembus 2,04 juta ton.
Kinerja sektor pertanian juga tercermin dari Nilai Tukar Petani yang konsisten di atas 120 sejak Juli 2024. Indeks tertinggi dalam tujuh tahun terakhir tercatat pada Desember 2025 dan Februari 2026 di level 126,11.
Dalam proyeksi neraca pangan 2025, produksi beras mencapai 34,69 juta ton, melampaui kebutuhan konsumsi 31,16 juta ton sehingga tidak diperlukan impor. Produksi daging ayam ras 4,29 juta ton dan telur ayam ras 6,54 juta ton juga berada di atas kebutuhan nasional.
Produksi jagung pakan mencatat surplus 16,16 juta ton, lebih tinggi dari kebutuhan 15,23 juta ton. Kondisi ini mengakhiri kebutuhan impor yang sempat terjadi pada 2024.
Pemerintah menilai kesiapan produksi dan cadangan menjadi fondasi utama menghadapi potensi gangguan iklim. Sektor pangan diprioritaskan untuk menjaga stabilitas nasional di tengah dinamika global.
.png)
4 hours ago
1















































