Dampak Jangka Panjang Anak yang Dibesarkan dengan Pola Asuh Keras dan Jadi Korban Kekerasan

10 hours ago 4

Dampak Jangka Panjang Anak yang Dibesarkan dengan Pola Asuh Keras dan Jadi Korban Kekerasan

Pola asuh keras. (Foto: Freepik)

POLA asuh berperan besar dalam membentuk karakter dan kesehatan mental anak. Meski sebagian orangtua menganggap sikap tegas atau hukuman keras sebagai cara mendisiplinkan anak.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pola asuh yang disertai kekerasan fisik maupun verbal justru dapat meninggalkan dampak yang bertahan hingga dewasa. Kekerasan terhadap anak tidak hanya berupa pukulan atau hukuman fisik.

anak sedih

Bentakan, penghinaan, ancaman, mempermalukan anak, hingga mengabaikan kebutuhan emosionalnya juga termasuk bentuk kekerasan yang dapat memengaruhi perkembangan psikologis. Lantas, apa saja dampak yang bisa dirasakan anak?

Dilansir dari American SPCC, berikut 7 dampak jangka panjang yang dapat dialami anak jika dibesarkan dengan pola asuh keras dna jadi korban kekerasan:

1. Kepercayaan Diri Menurun

Anak yang sering dimarahi, direndahkan, atau dibandingkan dengan orang lain cenderung tumbuh dengan rasa percaya diri yang rendah. Mereka bisa merasa dirinya tidak cukup baik dan terus mencari pengakuan dari lingkungan sekitar.

Perasaan ini dapat terbawa hingga dewasa. Hal ini pun bisa memengaruhi kehidupan pribadi maupun karier.

2. Lebih Rentan Mengalami Gangguan Mental

Pola asuh yang keras dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental. Di antaranya kecemasan, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma (PTSD), terutama jika anak mengalami kekerasan berulang.

Anak juga dapat mengalami kesulitan mengendalikan emosi. Mereka juga akan lebih mudah merasa tertekan.

3. Sulit Mengelola Emosi

Anak belajar mengelola emosi dari lingkungan terdekat, terutama orang tua. Jika yang mereka terima adalah bentakan atau hukuman setiap kali melakukan kesalahan, anak mungkin tumbuh dengan cara yang sama dalam menghadapi konflik.

Sebagian menjadi mudah marah dan agresif. Sementara itu, anak lainnya justru memendam emosi karena takut disalahkan.

Anak sedih depresi scarymommy

4. Kesulitan Menjalin Hubungan

Pengalaman masa kecil memengaruhi cara seseorang membangun hubungan dengan orang lain. Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan lebih berisiko mengalami kesulitan mempercayai orang lain, takut ditolak, atau sulit mengekspresikan perasaan. Hal ini dapat memengaruhi hubungan pertemanan, pasangan, hingga keluarga ketika dewasa.

5. Prestasi Belajar Terganggu

Tekanan emosional yang terus-menerus dapat mengganggu konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan belajar anak. Tidak sedikit anak yang mengalami penurunan prestasi akademik karena lebih fokus menghadapi rasa takut atau stres dibandingkan proses belajar.

6. Berisiko Melakukan Perilaku Berbahaya

Beberapa anak yang mengalami kekerasan berisiko mencari pelarian melalui perilaku yang membahayakan diri. Di antaranya, penyalahgunaan alkohol atau narkoba, perilaku impulsif, hingga tindakan menyakiti diri sendiri.

Meski tidak semua anak mengalaminya, risiko tersebut diketahui lebih tinggi dibandingkan anak yang tumbuh dalam lingkungan yang aman.

7. Berpotensi Mengulang Pola Asuh yang Sama

Tanpa adanya dukungan atau pembelajaran yang tepat, anak yang terbiasa menerima kekerasan dapat menganggap pola tersebut sebagai sesuatu yang normal. Akibatnya, saat menjadi orang tua nanti, mereka berisiko mengulang pola pengasuhan yang sama kepada anak-anaknya.

Namun, siklus ini dapat diputus. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan, yakni edukasi, pendampingan, dan dukungan psikologis.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |