REPUBLIKA.CO.ID, ANTALYA -- Armada Global Sumud masih tertahan di perairan Turki dan perbatasan Yunani menunggu cuaca reda. Hingga Sabtu (16/5/2026) malam waktu Mediterania, 54 kapal kemanusiaan belum menarik jangkar untuk melanjutkan pelayaran menuju Gaza, Palestina.
Cuaca mendung dan angin kencang menyebabkan ombak tinggi yang memaksa kapal-kapal kemanusiaan bermalam lagi di Teluk Antalya dan sekitar Kepulauan Kastellorizo.
Di Teluk Antalya, terdapat sekitar 30 kapal yang masih lepas jangkar. Jurnalis Republika, Bambang Noroyono, menaiki Kapal Boralize yang menjadi salah satu di antaranya. Di kapal tersebut terdapat sembilan partisipan, terdiri atas dua orang dari Malaysia, satu dari Prancis, dan lima partisipan dari Turki.
Kapal Boralize sudah lepas jangkar di perairan Teluk Antalya sejak Jumat (15/5/2026) tengah malam.
Sementara itu, jurnalis Republika lainnya, Thoudy Badai, yang menaiki Kapal Ozgurluk sedang berada di kepulauan antara Turki dan Yunani. Semua kapal memilih lepas jangkar di kawasan teluk untuk berlindung dari badai dan cuaca berangin kencang yang melanda perairan Mediterania sejak Kamis (14/5/2026) malam atau beberapa jam setelah 54 kapal tersebut angkat jangkar serempak menuju Gaza dari Dermaga Albatros, Marmaris, Turki selatan.
Armada Sumud yang menerabas cuaca buruk membuat hampir semua partisipan mengalami mabuk laut. Para partisipan pelayaran yang selama ini mengaku sebagai profesional di bidang maritim pun mengakui cuaca dan ombak tinggi sepanjang Kamis hingga Jumat berbahaya bagi kelanjutan misi.
Itu sebabnya seluruh armada dituntun untuk berlindung. Selama lepas jangkar di Teluk Antalya, para partisipan pelayaran saling bekerja sama dalam banyak hal, mulai dari menyusun jadwal jaga kapal, membersihkan armada, hingga memperbaiki berbagai kerusakan pada kapal masing-masing.
Beberapa kapal memang mengalami kerusakan kecil pada bagian layar maupun mesin kapal. Peralatan komunikasi juga sempat mengalami kendala, namun dapat diantisipasi.
Para partisipan pelayaran juga saling membantu dalam urusan logistik dengan memasak dan mengantarkan makanan tertentu. Beberapa peserta pelayaran, terutama dari kalangan Eropa yang memilih pola hidup vegetarian, tetap dilayani oleh peserta pelayaran lain dengan berbagi makanan vegan.
Sementara itu, para partisipan lainnya tidak ada yang kekurangan makanan maupun minuman.
sumber : Antara
.png)
3 hours ago
4
















































