Pesatnya adopsi teknologi finansial telah membuka akses keuangan yang lebih luas bagi generasi muda di Indonesia.
![]()
Cegah Risiko Pinjol Ilegal, OVO Finansial Perkuat Edukasi Mahasiswa Lewat Fintech Academy. Foto: iNews Media Group.
IDXChannel - Pesatnya adopsi teknologi finansial telah membuka akses keuangan yang lebih luas bagi generasi muda di Indonesia. Namun, kemudahan ini juga membawa tantangan nyata. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa per Maret 2026, kelompok usia 19–34 tahun mendominasi pendanaan macet di industri pinjaman daring dengan porsi mencapai 48,65 persen.
Artinya, hampir separuh pendanaan macet di industri pinjaman online berasal dari kelompok usia produktif muda, sebuh sinyal bahwa peningkatan akses keuangan perlu berjalan beriringan dengan literasi, keamanan digital, dan kemampuan mengambil keputusan finansial secara bertanggung jawab.
Di sisi lain, ancaman seperti pinjaman online ilegal, fraud digital, social engineering, penyalahgunaan data pribadi, hingga rendahnya pemahaman dalam mengelola keuangan pribadi kian mengintai generasi muda yang aktif menggunakan layanan digital dalam kesehariannya.
Menjawab kebutuhan tersebut, Fintech Academy by OVO Finansial bersama MoneyFestasi menggelar program edukasi finansial bertajuk “Fintech for Future: Membangun Literasi dan Keamanan Pendanaan Digital Generasi Muda” di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, pada Rabu, 20 Mei 2026. Ini merupakan bagian dari rangkaian roadshow kampus Fintech Academy yang telah dimulai di Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) awal Mei lalu.
Melalui rangkaian ini, OVO Finansial (PT Indonusa Bara Sejahtera) menargetkan peningkatan literasi keuangan yang merata di berbagai daerah, sekaligus memperkuat pemahaman generasi muda agar tidak hanya cakap menggunakan layanan digital, tetapi juga mampu memahami risiko di baliknya.
Fintech Academy kali ini menghadirkan Mekhdi Ibrahim Johan selaku Head of Public Affairs OVO Finansial, Dila Maghrifani selaku Dosen FEB UNS, serta Debora Aprianita selaku Financial Planner. Lewat diskusi panel, para narasumber membahas perkembangan pendanaan digital di Indonesia, perilaku generasi muda di era layanan digital, ancaman fraud, hingga pentingnya membangun ekosistem pendanaan digital yang aman dan berkelanjutan.
Pertumbuhan layanan pendanaan digital di Indonesia sebenarnya terus menunjukkan tren positif. Data OJK per Februari 2026 menunjukkan outstanding pembiayaan pinjaman daring tumbuh 25,75 perse. secara tahunan dengan nilai nominal mencapai Rp100,69 triliun.
Capaian ini mencerminkan semakin luasnya pemanfaatan layanan pendanaan digital di masyarakat, yang perlu diimbangi dengan edukasi yang konsisten agar pengguna dapat memanfaatkan layanan finansial secara aman dan bertanggung jawab.
Direktur Utama OVO Finansial, Riady Nata, menjelaskan bahwa mahasiswa bukan hanya pengguna layanan pendanaan digital, tetapi juga calon pelaku ekonomi masa depan.
“Pendanaan digital membuka peluang yang besar bagi generasi muda untuk mengakses layanan keuangan secara lebih mudah. Namun, kemudahan ini harus diikuti dengan pemahaman yang baik dan kritis mengenai keamanan digital. Pengguna harus tahu cara menjaga data pribadi, membedakan platform yang legal dan ilegal, serta mengenali modus kejahatan siber yang kian kompleks,” ujar Riady.
Riady juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah panik jika menghadapi pesan atau aktivitas mencurigakan yang mengatasnamakan platform OVO Finansial.
“Kami mendorong masyarakat untuk selalu skeptis terhadap komunikasi yang tidak bisa diverifikasi asal-usulnya. Jangan sampai kepanikan justru dimanfaatkan oleh pelaku fraud untuk menipu pengguna,” ujarnya.
Pengguna diimbau untuk selalu melakukan verifikasi melalui jalur komunikasi resmi OVO Finansial, yaitu melalui telepon di 021-403 20000 atau email ke [email protected].
Dari perspektif akademik, Dila Maghrifani, Dosen FEB UNS, menekankan pentingnya peran kampus dalam membangun pemahaman dan membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis di era cashless.
“Literasi keuangan digital tidak hanya berbicara tentang kemampuan menggunakan aplikasi atau layanan digital, tetapi juga memahami risiko, menjaga data pribadi, dan mengambil keputusan secara rasional. Jangan sampai kemudahan transaksi digital ini malah membuat kita terjebak boros hanya demi mengejar gengsi atau tren sesaat,” ujar Dila.
.png)
7 hours ago
2
















































