BSI Explore 2026: Mahasiswa Turun ke 38 Desa, Belajar dari Realitas Masyarakat

3 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Ada satu hal yang sering tidak diajarkan di ruang kelas yaitu realitas. Bukan karena dosennya tidak mampu, tapi karena kehidupan di luar kampus memang terlalu kompleks untuk sekadar dijelaskan lewat slide presentasi.

Mungkin itu juga yang coba dijawab Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Cikarang lewat program BSI Explore 2026. Sebuah program yang tidak hanya mengajak mahasiswa belajar, tapi benar-benar “dilempar” ke kehidupan nyata.

Program ini dijadwalkan berlangsung pada pertengahan 2026, dengan target 38 desa sebagai lokasi pengabdian. Bukan angka asal pilih, tapi hasil dari proses pemetaan kebutuhan yang cukup panjang.

Lebih dari 100 mahasiswa lintas program studi akan diterjunkan, dibagi ke dalam tim-tim kecil, lalu hidup dan belajar di tengah masyarakat selama beberapa pekan.

Di sana, mereka tidak datang sebagai “mahasiswa pintar”. Mereka datang sebagai orang yang harus belajar ulang cara memahami dunia.

Fokus kegiatannya terdengar teknis, seperti pelatihan literasi digital, pendampingan UMKM masuk ke platform online, hingga edukasi dasar bagi pelajar.

Namun, kalau dipikir lebih dalam, ini bukan soal teknologi semata. Ini soal bagaimana ilmu yang selama ini terasa “rapi di kelas” bisa tetap berdiri ketika bertemu realita yang tidak selalu rapi.

Kepala Kampus UBSI kampus Cikarang, Hasan Basri, menegaskan program ini dirancang dengan target yang jelas, bukan sekadar kegiatan seremonial.

“Kami menargetkan setiap desa mendapatkan output yang terukur, seperti minimal lima UMKM yang mampu masuk ke platform digital dan peningkatan literasi digital bagi masyarakat setempat,” ujarnya dalam keterangan, Rabu (15/4/2026).

Kalimat itu terdengar sistematis tetapi di baliknya ada tantangan yang tidak sederhana. Karena membantu UMKM bukan cuma soal membuat akun marketplace. Kadang, itu tentang meyakinkan seseorang bahwa usahanya layak untuk berkembang.

Program ini juga tidak membiarkan mahasiswa berjalan sendiri. Ada dosen pembimbing yang akan memonitor, ada proses observasi awal sebelum program dijalankan, dan ada evaluasi di akhir. Semua itu menjadikan pengalaman ini bukan sekadar “turun ke lapangan”, tapi bagian dari pembelajaran yang utuh.

Salah satu peserta, Rizky (21), mengaku sudah mempersiapkan diri jauh sebelum keberangkatan. Tapi tetap saja, ada rasa yang tidak bisa dipersiapkan sepenuhnya.

“Kami tidak hanya datang untuk mengajar, tapi juga belajar dari masyarakat. Tantangannya justru di situ, bagaimana program yang kami bawa bisa benar-benar diterapkan,” katanya.

Dan mungkin, di situlah inti dari semuanya. Kadang, yang kita sebut “mengajar” justru proses belajar yang paling jujur.

Di lapangan nanti, mahasiswa akan berhadapan langsung dengan pelaku UMKM, perangkat desa, hingga pelajar. Mereka akan membantu membuat akun marketplace, mengelola media sosial bisnis, hingga menyusun strategi promosi sederhana.

Kedengarannya teknis tetapi sebenarnya, ini tentang membangun kepercayaan. BSI Explore 2026 pada akhirnya bukan hanya program pengabdian. Ia ruang pertemuan antara teori dan kenyataan. Tempat di mana mahasiswa belajar bahwa solusi tidak selalu datang dari buku, tapi dari keberanian untuk mendengar dan mencoba.

Dan kalau semua berjalan sesuai rencana, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh desa-desa tersebut. Tapi juga oleh mahasiswa itu sendiri yang pulang dengan cara pandang baru tentang dunia.

Kalau kamu ingin merasakan kuliah yang tidak berhenti di ruang kelas, UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif membuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB).

Di sini, kamu tidak hanya belajar teori, tapi juga diberi ruang untuk terjun, mencoba, dan menemukan makna dari ilmu yang kamu pelajari.

Daftar sekarang di https://pmbubsi.id karena kadang, masa depan tidak datang dari apa yang kamu hafal, tapi dari apa yang kamu berani jalani.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |