Petugas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengamati layar yang menampilkan ilustrasi El Nino di Kantor Pusat BMKG, Kemayoran, Jakarta, Senin (30/3/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan tidak ada indikasi terjadinya fenomena super El Nino atau yang kerap disebut El Nino Godzilla pada 2026. Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo di Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (14/4/2026) sore, mengatakan hingga semester pertama 2026 kondisi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) masih berada pada fase netral.
“Memasuki semester kedua, ENSO berpotensi menuju El Nino lemah atau bahkan moderat dengan peluang sekitar 55 persen, terutama mulai periode Juni hingga Agustus,” katanya.
Tunggul mengatakan ENSO merupakan fenomena iklim global yang terjadi akibat interaksi antara laut dan atmosfer di Samudra Pasifik tropis, yang ditandai dengan perubahan suhu permukaan laut dan tekanan udara. Fenomena tersebut memiliki tiga fase utama, yakni El Nino, La Nina, dan Netral.
El Nino ditandai dengan anomali suhu permukaan laut positif di wilayah ekuator Pasifik tengah (Nino 3,4), sedangkan La Nina merupakan kondisi sebaliknya dengan anomali negatif. Menurut dia, dampak El Nino di Indonesia umumnya berupa penurunan curah hujan, meskipun sangat dipengaruhi oleh kondisi suhu perairan di wilayah Indonesia.
“Jika suhu perairan Indonesia cukup dingin, El Nino dapat mengurangi curah hujan secara signifikan. Namun jika suhu perairan relatif hangat, dampaknya bisa tidak terlalu terasa,” katanya.
Sementara itu, kata dia, La Nina cenderung meningkatkan curah hujan di Indonesia, terutama jika diikuti dengan menghangatnya suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia.
sumber : Antara
.png)
5 hours ago
2















































