REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pasar perdagangan derivatif atau futures aset kripto di Indonesia dinilai masih berada pada tahap awal meski memiliki ruang pertumbuhan seiring meningkatnya aktivitas perdagangan aset digital. Pelaku industri menilai peningkatan literasi dan pemahaman risiko akan menjadi faktor penting dalam pengembangan pasar tersebut.
Direktur Operasional Bittime Ryan Lymn mengatakan, pasar futures kripto di Indonesia berpotensi berkembang seiring bertambahnya pemahaman investor terhadap produk derivatif.
“Kami melihat pasar futures Indonesia masih berada pada tahap awal dan memiliki ruang untuk berkembang. Seiring meningkatnya pemahaman pelaku pasar, futures berpotensi menjadi bagian yang semakin penting dalam ekosistem perdagangan aset digital nasional,” kata Ryan dalam keterangan tertulis, Jumat (24/7/2026).
Secara global, volume perdagangan perpetual futures kripto telah melampaui 187 miliar dolar AS per hari pada 2025. Pada periode tertentu, volume perdagangan futures juga tercatat lebih dari 10 kali lipat dibandingkan perdagangan spot, mencerminkan besarnya aktivitas pada instrumen derivatif.
Di Indonesia, perdagangan aset kripto masih didominasi transaksi spot. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai transaksi aset kripto pada Mei 2026 mencapai Rp23,01 triliun, sedikit meningkat dibandingkan Rp22,98 triliun pada April 2026.
Ryan mengatakan salah satu keunggulan perdagangan futures adalah fleksibilitas strategi karena investor dapat mengambil posisi long ketika memperkirakan harga naik maupun short saat memperkirakan harga turun.
“Futures memberikan ruang bagi trader untuk menerapkan strategi berdasarkan analisis dan kondisi pasar, baik ketika harga bergerak naik maupun turun. Namun, peluang tersebut tetap harus diimbangi dengan pemahaman produk dan manajemen risiko yang baik,” ujarnya.
Berdasarkan data internal Bittime selama masa uji coba layanan, aktivitas perdagangan menunjukkan profil pengguna yang beragam, mulai dari investor bermodal relatif kecil hingga trader dengan volume transaksi bernilai jutaan dolar AS. Aset yang paling banyak diperdagangkan antara lain BTC/USDT, ETH/USDT, PUMP/USDT, HYPE/USDT, dan PEPE/USDT.
Ryan menekankan bahwa data tersebut tidak mencerminkan potensi keuntungan seluruh investor karena perdagangan futures memiliki risiko tinggi. Penggunaan leverage dapat memperbesar potensi keuntungan sekaligus meningkatkan risiko kerugian.
Dengan jumlah investor aset kripto di Indonesia yang telah melampaui 22 juta, pelaku industri menilai pertumbuhan volume transaksi, peningkatan jumlah pengguna, serta penguatan literasi menjadi faktor yang akan menentukan perkembangan pasar derivatif aset digital ke depan.
.png)
3 hours ago
1









































