Arab Saudi dan Mesir Dilaporkan Diam-Diam Bangun Koridor Logistik Baru Hindari Selat Hormuz

4 hours ago 1

Kapal-kapal kargo terlihat di Teluk Persia dekat Pulau Qeshm di provinsi Hormozgan, Iran, 23 Desember 2011 (diterbitkan ulang 20 Maret 2026). 70% pengiriman maritim di Selat Hormuz telah menurun sejak ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkat pada 28 Februari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Arab Saudi dan Mesir dilaporkan the New Arab, Kamis (16/4/2026), diam-diam membangun sebuah koridor logistik baru untuk mengamankan pasokan kebutuhan negara-negara kawasan Teluk dari pasar internasional. Koridor logistik baru ini dibangun di tengah masalah keamanan dan tensi tinggi geopolitik akibat perang AS-Israel dengan Iran.

Koridor baru memanfaatkan pelabuhan-pelabuhan di kawasan Mediterania di Mesir dan Laut Merah, menghubungkan mereka ke pelabuhan-pelabuhan di Laut Merah dekat kawasan Arab Saudi. Rute ini membuat 'jembatan' penghubung jalur logistik yang membantu negara-negara Teluk menghindari konflik yang saat ini terjadi di Selat Hormuz.

Dalam beberapa pekan terakhir, ratusan ton kargo dilaporkan membanjiri Pelabuhan Damietta milik Mesir. Karg-kargo itu datang dari Eropa, khususnya dari Pelabuhan Trieste di Laut Adriatic. 

Ratusan kargo itu kemudian ditransfer ke Pelabuhan Safaga di Laut Merah sebelum dikirim ke pasar Teluk melalui pelabuhan-pelabuhan milik Arab Saudi seperti Pelabuhan Duba di Laut Merah.

Koridor logistik baru, menurut ahli transportasi maritim, mengurangi waktu tempuh, ongkos, yang berdampak pada harga keseluruhan dari barang-barang yang dijual di pasar negara-negara Teluk. "Terlepas dari harga dan waktu ketibaan kargo, koridor baru menyediakan alternatif rute maritim baru yang saat ini terganggu oleh perang Iran," ujar ahli transportasi maritim dari Mesir, Ahmed al-Shami.

Al-Shami memperkirakan negara-negara di Teluk Persia menjadi bergantung pada koridor baru ini untuk perdagangan dengan eropa dan kawasan lain, khususnya jika ancaman dari atas Iran atas kebebasan navigasi di Selat Hormuz terus terjadi hingga waktu yang belum bisa diprediksi.

"Bertambahnya kebergantungan atas koridor ini akan terjadi pada masa depan, namun, penting bagi pelabuhan-pelabuhan di Mediterania dan Laut Merah untuk lebih mempersiapkan diri menangani jumlah besar kapal-kapal kontainer," kata Al-Shami, menambahkan.

Koridor baru logistik ini tercipta usai Mesir meluncurkan sebuah layanan transit kapal Ro-Ro yang bertujuan untuk membangun sebuah jalur penghubung antara pasar Eropa dan Teluk yang aman dari tak terganggu. Koridor baru ini menjadi penting menyusul terus berlanjutnya aksi penutupan Selat Hormuz dan keinginan Iran untuk menerapkan tarif tol bagi kapal-kapal yang melintas di selat itu.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |