Ancaman Kesehatan di Musim Kemarau, Farabi El Fouz Minta Pemda Perkuat Layanan Kesehatan

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG - Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, Farabi El Fouz, mengingatkan semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai risiko kesehatan seiring prediksi musim kemarau yang berlangsung lebih panjang tahun ini. Selain sebagai legislator, Farabi juga dikenal sebagai praktisi kesehatan yang kerap menyoroti isu-isu kesehatan publik.

Menurut Farabi, kemarau berkepanjangan tidak hanya berdampak pada ketersediaan air bersih, tetapi juga berpotensi memicu peningkatan berbagai penyakit di tengah masyarakat. Ia menyebutkan, penyakit seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare dehidrasi, batuk kronis, campak, pneumonia hingga gangguan kulit menjadi ancaman yang perlu diantisipasi sejak dini.

“Perubahan cuaca ekstrem, terutama kemarau panjang, seringkali diikuti dengan menurunnya kualitas lingkungan. Debu meningkat, air bersih terbatas, dan ini berdampak langsung pada kesehatan masyarakat,” ujar Farabi kepada Republika.co.id, Senin (20/4/26)

Ia menambahkan, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan penyakit bawaan menjadi pihak yang paling berisiko terdampak. Oleh karena itu, diperlukan langkah pencegahan yang konsisten, baik dari individu maupun pemerintah daerah.

Farabi juga mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat layanan kesehatan, terutama di tingkat puskesmas, agar mampu merespons lonjakan kasus penyakit selama musim kemarau. Selain itu, untuk preventif edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga pola hidup bersih dan sehat dinilai krusial untuk menekan risiko penyakit.

Secara khusus, Farabi mengimbau dinas kesehatan di kabupaten dan kota untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini, mulai dari pemetaan wilayah rawan penyakit, kesiapan tenaga medis, hingga ketersediaan obat-obatan. Ia menilai kesiapan institusi kesehatan menjadi kunci dalam menekan dampak kemarau terhadap kesehatan masyarakat.

“Masyarakat perlu memperhatikan asupan cairan, menjaga kebersihan lingkungan, serta menghindari aktivitas berlebihan di bawah paparan panas ekstrem. Di sisi lain, dinas kesehatan juga harus sigap dan proaktif melakukan pencegahan,” katanya.

Di sisi lain, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi dampak kemarau, termasuk penyediaan air bersih dan pengendalian kualitas udara. Dengan langkah antisipatif yang tepat, Farabi optimistis dampak kesehatan akibat kemarau panjang dapat diminimalkan.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah di Jawa Barat akan mengalami musim kemarau lebih kering dibandingkan kondisi biasanya pada 2026. Bahkan, musim kemarau tahun ini disebut lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis dalam 30 tahun terakhir.

Hal itu disampaikan Prakirawan Cuaca Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat, Vivi Indhira, dalam kegiatan sosialisasi Musim Kemarau Jawa Barat 2026 yang diselenggarakan secara daring, belum lama ini.

Vivi menjelaskan, sebanyak 93 persen wilayah di Jawa Barat akan mengalami sifat hujan di bawah normal saat musim kemarau. Artinya, curah hujan bakal lebih rendah dibandingkan rata-rata normalnya sehingga musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dari biasanya.

Adapun sejumlah wilayah yang mengalami kondisi tersebut, di antaranya Kota Bandung, Kota Tasikmalaya, Cianjur, Sukabumi, Bekasi, Cirebon, serta Kuningan. 

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |