REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada masa dalam kehidupan ketika doa-doa terasa seperti mengetuk pintu yang tak kunjung terbuka. Kita berusaha sekuat tenaga, tetapi hasil belum juga tampak. Hati mulai lelah, langkah terasa berat, bahkan muncul pertanyaan yang diam-diam mengusik batin, "Apakah Allah masih mendengar doaku?"
Perasaan seperti itu ternyata bukan sesuatu yang asing dalam perjalanan orang-orang beriman. Bahkan Rasulullah pernah melewati masa ketika langit seolah sunyi.
Setelah wahyu pertama turun, datanglah masa ketika wahyu berhenti beberapa waktu. Rasulullah, merindukan datangnya kembali kalam Allah. Pada saat itulah kaum musyrikin Makkah menjadikan keadaan tersebut sebagai bahan ejekan. Dalam riwayat sahih yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim disebutkan bahwa seorang perempuan dari kaum Quraisy berkata kepada Nabi, "Aku tidak melihat setanmu kecuali telah meninggalkanmu."
Allah tidak membiarkan Rasul-Nya menjawab sendiri ejekan itu. Dia menjawabnya langsung melalui firman-Nya yang begitu lembut sekaligus menenangkan.
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ
Mā wadda'aka rabbuka wa mā qalā.
"Tuhanmu tidak meninggalkan engkau dan tidak pula membencimu." (QS. Ad-Dhuha: 3)
Kalimat ini mungkin hanya terdiri atas beberapa kata. Namun di dalamnya tersimpan pelukan yang menenangkan hati setiap orang yang pernah merasa sendiri.
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan bantahan terhadap anggapan orang-orang musyrik yang mengira terhentinya wahyu adalah tanda Allah meninggalkan Rasulullah. Tidak demikian. Jeda itu bukan murka Allah, melainkan bagian dari hikmah dan pengaturan-Nya.
Perhatikan bagaimana Allah memulai ayat ini dengan menyebut "Rabbuka", "Tuhanmu." Bukan sekadar Allah, tetapi Rabb, Dzat yang memelihara, membimbing, menjaga, dan mendidik hamba-Nya dengan kasih sayang yang tidak pernah putus. Sejak kata pertama, Allah sudah menghapus kegelisahan Rasul-Nya sebelum menegaskan bahwa Dia tidak pernah meninggalkan beliau.
Lalu Allah melanjutkan dengan penegasan kedua, "wa mā qalā", "dan tidak pula membencimu." Seolah-olah Allah ingin menghilangkan dua prasangka sekaligus. Pertama, bahwa Rasulullah ditinggalkan. Kedua, bahwa jeda wahyu itu terjadi karena Allah murka kepadanya. Keduanya ditepis dengan kalimat yang singkat, tetapi begitu dalam maknanya.
.png)
3 hours ago
1












































