REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kendaraan berat hanya mencakup sekitar tiga persen dari total populasi kendaraan di Indonesia, tetapi menyumbang sekitar 31 persen emisi karbon sektor transportasi. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menilai dekarbonisasi kendaraan berat menjadi langkah penting untuk menekan emisi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Dalam Indonesia Zero Emission Heavy-Duty Vehicle Summit 2026, AHY mengatakan Indonesia menghadapi tantangan memenuhi kebutuhan energi untuk pembangunan tanpa mengabaikan komitmen penurunan emisi gas rumah kaca.
“Ketika kita ingin membangun, kita membutuhkan lebih banyak energi. Tapi ketika energi semakin banyak, konsekuensinya semakin besar emisi karbonnya,” kata AHY, Kamis (23/7/2026).
Menurut AHY, pemerintah tidak perlu memilih antara ketahanan energi dan keberlanjutan lingkungan karena keduanya harus berjalan beriringan. Upaya yang ditempuh antara lain memperluas penggunaan energi terbarukan, meningkatkan efisiensi energi, serta melakukan diversifikasi sumber energi.
AHY menjelaskan sekitar 55 persen emisi karbon nasional berasal dari sektor energi. Dari jumlah tersebut, sekitar 82 persen berasal dari sektor transportasi berbagai moda, sementara transportasi darat menyumbang sekitar 89 persen emisi sektor transportasi.
“Jumlahnya sedikit, tetapi emisinya menggigit,” ujar AHY.
Pemerintah, kata AHY, terus mengawal peta jalan dekarbonisasi transportasi melalui pengembangan kendaraan rendah emisi, penggunaan bahan bakar rendah karbon, elektrifikasi kendaraan, modernisasi armada, peningkatan efisiensi operasional, serta penguatan tata kelola.
“Percuma kita membangun strategi kalau tidak ada governance yang baik, transparansi, akuntabilitas, dan penegakan hukum yang adil,” katanya.
Selain itu, pemerintah mendorong elektrifikasi kendaraan, pengembangan bus rapid transit (BRT), manajemen lalu lintas yang lebih efisien, serta penerapan konsep Transit Oriented Development (TOD). Pemerintah juga mempercepat implementasi biodiesel B50, penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF), modernisasi transportasi laut, serta pengembangan jaringan kereta api untuk mengurangi emisi dari sektor transportasi.
AHY juga menegaskan pemerintah mempercepat penertiban kendaraan over dimension over loading (ODOL) melalui penyusunan strategi bersama pelaku industri dan sektor logistik, termasuk pemberian insentif bagi perusahaan yang melakukan konversi armada sesuai standar keselamatan.
“Pada akhirnya kita ingin memastikan bahwa tidak boleh kita menomorduakan faktor keselamatan di jalan,” katanya.
Menurut AHY, pengembangan kendaraan listrik harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penciptaan permintaan, perluasan jaringan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), penguatan industri manufaktur dalam negeri, hingga riset dan pengembangan.
“Jangan sampai kita hanya puas menjadi pengekspor bahan mentah. Kita harus meningkatkan nilainya melalui hilirisasi dan membangun ekosistem kendaraan listrik dari kita, oleh kita, untuk kita,” ujar AHY.
.png)
5 hours ago
2












































