3 Analisis: Perang Iran-AS-Israel Memanas, Mengapa Tak Ada yang Benar-Benar Menang?

6 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada sesuatu yang ganjil dalam cara dunia membaca perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Di layar-layar televisi, konflik ini tampak seperti duel kekuatan: rudal berbalas rudal, ancaman dibalas ancaman. Namun di balik gemuruh itu, tersimpan satu fakta sunyi yang jarang diakui: tak satu pun pihak benar-benar menang.

Direktur Program Timur Tengah di Chatham House, Sanam Vakil, mengingatkan dengan nada yang nyaris dingin: “Gencatan senjata ini harus dipahami bukan sebagai akhir dari krisis, tetapi sebagai awal dari fase baru yang penuh ketidakpastian.”

Kalimat itu seperti membuka tirai, bahwa yang kita saksikan bukanlah penutup perang, melainkan jeda napas sebelum babak berikutnya dimulai.

Ilusi Kemenangan dan Harga yang Tak Terhitung

Amerika mengklaim kemenangan. Iran bertahan dan menyebutnya sebagai keteguhan. Israel melanjutkan operasi militernya seolah tidak ada batas. Namun jika ditarik sedikit ke belakang, narasi kemenangan itu runtuh dengan sendirinya.

Vakil menegaskan: “Tidak ada pihak yang memenangkan perang.” Amerika gagal mengganti rezim di Teheran. Iran memang terpukul, tetapi tetap berdiri. Bahkan, yang terjadi justru konsolidasi kekuatan garis keras di dalam negeri Iran.

Di sisi lain, perang ini tidak berhenti di satu titik. Ia menjalar ke Teluk, mengancam Selat Hormuz, mengguncang pasar energi, dan menyeret kawasan ke dalam ketidakpastian berkepanjangan, sebagaimana tertulis dalam The Guardian .

Inilah paradoks geopolitik modern: perang tidak lagi menghasilkan kemenangan, melainkan hanya memperluas kerusakan.

Ketika Perang Menjadi Industri

Namun ada dimensi lain yang lebih sunyi, sekaligus lebih mengkhawatirkan: perang ternyata bukan hanya soal strategi militer, tetapi juga mesin ekonomi global.

Sejarawan Tarik Cyril Amar menyingkap realitas yang jarang dibicarakan: perusahaan sipil kini beralih menjadi bagian dari industri militer. Ia menulis, industri otomotif Jerman yang merosot mencoba bertahan dengan memasuki sektor pertahanan.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa ini bukan sekadar strategi bisnis, tetapi bagian dari ekosistem yang lebih besar:

“Kolaborasi antara sektor militer, teknologi, dan industri Israel… merupakan bagian dari skandal global,” sebagaimana dimuat RT.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |