Vietnam dan Keseriusan Membangun Sepak Bola: Dari Stadion Raksasa hingga Pembinaan Usia Muda

1 week ago 25

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Di balik kesuksesan back to back juara Piala AFF 2026, Vietnam sedang membangun sepak bola secara lebih sistematis. Selain mengejar prestasi tim nasional, mereka juga melakukan pembangunan infrastruktur, pembinaan usia muda, investasi swasta, dan naturalisasi.

Salah satu simbol ambisi terbesar adalah pembangunan stadion berkapasitas 135.000 penonton di Hanoi oleh Vingroup, konglomerasi swasta terbesar Vietnam.

Stadion yang kini bernama VinFast Stadium itu ditargetkan selesai Juli 2027. Stadion ini menjadi bagian dari Hanoi International Sports City atau Olympic Sports City, kawasan olahraga dan perkotaan seluas lebih dari 9.000 hektare dengan nilai investasi yang dilaporkan melampaui 35 miliar dolar AS.

Stadion tersebut dirancang multifungsi dengan atap buka-tutup, teknologi AI, jaringan kursi berbasis 5G, pengendalian kerumunan secara real time, serta sistem penggunaan ulang air.

Konsep yang diusung negara itu dalam pembangunan infrastruktur, yakni olahraga ditempatkan dalam ekosistem ekonomi, teknologi, pariwisata, dan penyelenggaraan acara internasional.

Selain proyek stadion 135.000 kursi, Vietnam News Agency (VNA) juga menyebutkan saat ini negara itu tengah mengembangkan Rach Chiec National Sports Complex di Ho Chi Minh City serta pembangunan PVF Stadium berkapasitas 60.000 kursi.

Tak hanya infrastruktur, bukti paling konkret justru terlihat dari pembinaan usia muda. Vietnam untuk pertama kalinya lolos ke FIFA U-17 World Cup 2026 yang akan digelar di Qatar dari 19 November hingga 13 Desember 2026. Vietnam akan bergabung di grup G bersama Belgia, Mali, serta Selandia Baru.

Menurut pelatih Vietnam U-17, Cristiano Roland, perubahan mentalitas pemain muda Vietnam menjadi salah satu wujud kemajuan penting di pembinaan para pemain pelapis.

"Meskipun untuk bersaing di level yang lebih tinggi para pemain muda Vietnam masih harus meningkatkan intensitas permainan, pengambilan keputusan, taktik, dan konsistensi," ujarnya dikutip dari VNA.

Jalur U-23 juga memberikan sinyal positif. Vietnam mencapai semifinal dan finis di posisi ketiga AFC U-23 Asian Cup 2026 di bawah asuhan pelatih Kim Sang-sik. Hasil tersebut menunjukkan, pembinaan mulai menghasilkan pemain yang kompetitif di level Asia.

Di sisi lain, naturalisasi sebagai salah satu bukti utama keseriusan Vietnam. Memang, perdebatan tentang naturalisasi sedang menguat. Pelatih Kim Sang-sik mendorong federasi sepak bola Vietnam untuk mempercepat proses naturalisasi pemain keturunan Vietnam maupun pemain kelahiran luar negeri, terutama setelah tim nasional mengalami kesulitan menghadapi perubahan kualitas di kawasan.

Tak heran, usai diperkuat Rafaelson, pemain depan asal Brasil yang resmi menjadi WN Vietnam pada September 2024 setelah berkarier selama 5 tahun di liga lokal, kini mereka ketambahan dua striker, Lee Williams yang memiliki tinggi 188 cm dan Michael Olala, 186 cm. Bagi Vietnam, naturalisasi bukan solusi permanen. Kebijakan tersebut dipandang sebagai instrumen transisi untuk menutup kesenjangan kualitas sambil memberi waktu bagi generasi muda berkembang.

Pada akhirnya, keseriusan Vietnam terletak pada pembangunan beberapa lapis fondasi sekaligus: infrastruktur untuk menjadi tuan rumah, akademi untuk memasok pemain, kompetisi usia muda untuk menguji kualitas, dan naturalisasi untuk kebutuhan jangka pendek.

Tantangan berikutnya adalah mengubah investasi itu menjadi sistem berkelanjutan melalui liga yang kuat, basis penonton yang lebih besar, klub sehat, serta pemain yang konsisten menembus level Asia.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |