Ai Komariah
Teknologi | 2026-08-19 13:55:59
Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2026 dorong Kelompok Tani Sri Jembar di Karawang menerapkan varietas kedelai adaptif, budidaya ramah lingkungan, teknologi monitoring SoySmart, serta penguatan manajemen usahatani.
KARAWANG – Perubahan iklim menjadi salah satu tantangan yang dihadapi petani kedelai. Ketidakpastian curah hujan, risiko kekeringan, perubahan kondisi lingkungan, gangguan organisme pengganggu tanaman, serta persoalan pengelolaan kesuburan tanah dan air dapat memengaruhi proses budidaya. Kondisi tersebut membuat kemampuan petani untuk beradaptasi menjadi semakin penting.
Sebagai upaya menjawab permasalahan tersebut, tim pelaksana melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2026 dengan judul “Pemberdayaan Petani Kedelai dalam Adaptasi Perubahan Iklim melalui Penerapan Varietas Toleran dan Teknologi Budidaya Ramah Lingkungan” bersama Kelompok Tani Sri Jembar di Kertawaluya, Kabupaten Karawang.
Program ini memperoleh dukungan pendanaan sebesar Rp41.170.000 (empat puluh satu juta seratus tujuh puluh ribu rupiah) dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, pada Tahun Pendanaan 2026.
Program diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Ai Komariah, M.S., dengan anggota Maria Lusiana Yulianti, S.E., M.M. dan Dr. Konvertina Rakhmi Indriana, S.P., M.P. Kegiatan turut melibatkan dua mahasiswa, yaitu Rosi Agni Pasmawati dan Ujang Mulyana, dalam mendukung pelaksanaan kegiatan pemberdayaan dan pendampingan di lapangan.
Berangkat dari Persoalan Nyata Petani Kedelai
Program pemberdayaan dirancang berdasarkan kondisi dan permasalahan yang dihadapi mitra. Pada tahap awal, tim melakukan identifikasi kondisi Kelompok Tani Sri Jembar sekaligus sosialisasi mengenai rencana kegiatan.
Hasil identifikasi menunjukkan adanya sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian, antara lain risiko kekeringan, kebutuhan pengelolaan air dan drainase yang lebih baik, gangguan organisme pengganggu tanaman, pengelolaan kesuburan tanah, serta masih terbatasnya pemanfaatan teknologi untuk memantau kondisi lahan.
Selain persoalan produksi, aspek manajemen usahatani juga menjadi perhatian. Pencatatan kegiatan budidaya, penggunaan sarana produksi, tenaga kerja, dan biaya usahatani perlu diperkuat sehingga petani mempunyai data yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kegiatan usahataninya.
Atas dasar kondisi tersebut, pemberdayaan tidak hanya diarahkan pada pemberian sarana dan teknologi, tetapi juga pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani agar lebih mampu menghadapi perubahan kondisi lingkungan.
Edukasi Adaptasi Perubahan Iklim dan Budidaya Ramah Lingkungan
Kegiatan dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif dengan melibatkan petani dalam tahapan identifikasi, edukasi, pelatihan, penerapan teknologi, hingga pendampingan.
Petani memperoleh edukasi mengenai strategi adaptasi perubahan iklim dalam budidaya kedelai. Materi diarahkan pada pemahaman mengenai pemilihan varietas, pengelolaan tanah, pemupukan berimbang, pengelolaan air dan drainase, pemeliharaan tanaman, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman.
Pendekatan budidaya ramah lingkungan menjadi bagian penting dari kegiatan. Petani didorong untuk memahami bahwa keberhasilan menghadapi perubahan iklim tidak hanya bergantung pada satu teknologi, tetapi membutuhkan integrasi antara varietas yang sesuai, pengelolaan lingkungan tumbuh, penggunaan input secara tepat, serta kemampuan membaca kondisi lahan.
Tiga Varietas Kedelai Diterapkan
Sebagai bagian dari proses pemberdayaan, program menerapkan tiga varietas kedelai, yaitu Grobogan, Dega, dan NS. Ketiga varietas tersebut digunakan dalam kegiatan lapangan sehingga petani dapat mengikuti dan mengamati perkembangan tanaman selama program berlangsung.
Penerapan varietas tersebut sekaligus menjadi sarana pembelajaran lapangan. Petani tidak hanya menerima informasi melalui penyampaian materi, tetapi terlibat dalam proses penerapan budidaya dan pengamatan tanaman.
Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman petani mengenai pentingnya pemilihan varietas dan pengelolaan budidaya sebagai bagian dari strategi menghadapi kondisi lingkungan yang semakin dinamis.
SoySmart Dukung Pemantauan Kondisi Lahan
Selain penguatan aspek budidaya, program memperkenalkan teknologi SoySmart berbasis Internet of Things (IoT) sebagai teknologi pendukung monitoring kondisi lahan dan lingkungan pertanaman kedelai.
Teknologi SoySmart digunakan untuk membantu memantau berbagai parameter, meliputi pH tanah, nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), kelembapan tanah, kelembapan udara, suhu udara, curah hujan, kecepatan angin, dan arah angin.
Informasi tersebut dapat memberikan gambaran kondisi lingkungan pertanaman secara lebih terukur. Dengan demikian, petani diperkenalkan pada pendekatan pengelolaan budidaya yang tidak hanya berdasarkan pengalaman, tetapi secara bertahap juga memanfaatkan informasi hasil monitoring.
Program turut memperkenalkan SoySmart AI, yang diarahkan sebagai teknologi pendukung untuk membantu identifikasi penyakit daun kedelai berbasis citra.
Pada tahap kemajuan program, data awal dari perangkat SoySmart telah mulai diperoleh. Data tersebut selanjutnya menjadi bagian dari proses pemantauan kondisi lahan dan pendampingan kepada mitra.
Petani Juga Diperkuat dari Sisi Manajemen Usahatani
Pemberdayaan Kelompok Tani Sri Jembar tidak berhenti pada aspek produksi dan teknologi. Tim pelaksana juga memberikan penguatan pada aspek manajemen usahatani.
Salah satu instrumen yang diperkenalkan adalah logbook usahatani. Melalui logbook tersebut, petani didorong melakukan pencatatan kegiatan budidaya secara lebih teratur, termasuk penggunaan input produksi, tenaga kerja, biaya, serta perkembangan kegiatan di lapangan.
Pencatatan menjadi penting karena dapat membantu petani mengetahui kegiatan yang telah dilakukan dan menjadi dasar evaluasi pengelolaan usahatani.
Kelompok tani juga memperoleh dukungan sarana berupa sprayer dan timbangan digital. Sprayer mendukung kegiatan pemeliharaan tanaman, sementara timbangan digital dapat membantu pengukuran hasil secara lebih akurat dan mendukung pencatatan produksi.
Pemberdayaan Lebih Penting daripada Sekadar Penyerahan Teknologi
Ketua Tim Pelaksana, Prof. Dr. Ir. Ai Komariah, M.S., menjelaskan bahwa arah utama kegiatan adalah meningkatkan kapasitas petani dalam menghadapi perubahan iklim melalui integrasi aspek varietas, budidaya, teknologi, dan pengelolaan usahatani.
“Program ini diarahkan agar petani tidak hanya menerima teknologi, tetapi memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menerapkannya dalam kegiatan budidaya. Varietas, budidaya ramah lingkungan, teknologi monitoring, dan manajemen usahatani menjadi bagian yang saling mendukung dalam proses pemberdayaan petani kedelai.”
Pemanfaatan SoySmart, misalnya, tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir program. Teknologi tersebut menjadi instrumen pendukung agar petani semakin terbiasa memperhatikan kondisi tanah dan lingkungan ketika melakukan pengelolaan tanaman.
Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari tersedianya perangkat atau sarana, tetapi juga dari proses peningkatan kemampuan petani dalam menggunakan dan memanfaatkan teknologi.
Pendampingan Menjadi Kunci Keberlanjutan
Hingga tahap laporan kemajuan, kegiatan telah mencakup sosialisasi dan identifikasi, edukasi dan pelatihan, penerapan varietas Grobogan, Dega dan NS, penerapan awal teknologi SoySmart, penyerahan dan pemanfaatan sarana pendukung berupa sprayer dan timbangan digital, penggunaan logbook usahatani, serta pendampingan kepada mitra.
Program selanjutnya diarahkan pada pemantauan pertumbuhan tanaman, pendampingan pemanfaatan teknologi secara berkala, evaluasi penerapan teknik budidaya, pemanfaatan data hasil monitoring SoySmart, serta pengukuran perkembangan tingkat keberdayaan mitra.
Karena kegiatan masih berada pada tahap kemajuan, hasil akhir terkait produktivitas tanaman maupun peningkatan keberdayaan petani belum ditetapkan sebagai capaian final. Pengukuran tersebut dilakukan melalui proses monitoring dan evaluasi sesuai perkembangan pelaksanaan program.
Pendampingan menjadi bagian penting agar teknologi dan pengetahuan yang telah diberikan tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Kelompok Tani Sri Jembar diharapkan semakin mampu menerapkan budidaya kedelai yang adaptif, melakukan pencatatan usahatani secara teratur, menggunakan teknologi monitoring, serta mengambil keputusan budidaya berdasarkan kondisi lapangan.
Melalui program ini, integrasi antara pemberdayaan petani, varietas toleran, teknologi budidaya ramah lingkungan, teknologi monitoring, dan penguatan manajemen usahatani diharapkan dapat menjadi salah satu pendekatan dalam memperkuat kemampuan petani kedelai menghadapi tantangan perubahan iklim secara berkelanjutan.
Program “Pemberdayaan Petani Kedelai dalam Adaptasi Perubahan Iklim melalui Penerapan Varietas Toleran dan Teknologi Budidaya Ramah Lingkungan” merupakan Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026 dengan nilai pendanaan sebesar Rp41.170.000 yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
2 hours ago
1







































