Utusan AS Tom Barrack Kecam Israel, Jejak Militer Turki Justru Dipuji

19 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Serangan Israel terhadap Pangkalan Udara Abu al-Duhur di Suriah membuka risiko konfrontasi langsung dengan Turki, sesama mitra penting Amerika Serikat di kawasan. Duta Besar AS untuk Turki sekaligus utusan khusus Presiden Donald Trump untuk Suriah dan Irak, Tom Barrack, mengatakan Ankara tidak mengetahui tujuan pesawat-pesawat Israel yang bergerak mendekati perbatasannya sehingga militer Turki bisa saja menerbangkan jet tempur untuk merespons.

Barrack bahkan mengemukakan salah satu teori bahwa Israel mungkin sengaja "memancing" Turki. Namun, ia secara eksplisit menegaskan dugaan itu merupakan teori, bukan kesimpulan intelijen Amerika Serikat.

Komentar Barrack muncul setelah Israel menyerang Pangkalan Udara Abu al-Duhur di Provinsi Idlib, Suriah barat laut, pada Selasa, 18 Agustus 2026. Televisi pemerintah Suriah Ekhbariya, mengutip sumber militer, melaporkan delapan serangan menghantam landasan pacu dan fasilitas penyimpanan. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Reuters pada Selasa, 18 Agustus 2026 melaporkan pangkalan tersebut berjarak sekitar 70 kilometer di sebelah timur perbatasan Turki dan tidak beroperasi sebagai lapangan udara militer khusus sejak 2013.

Israel mengatakan serangan dilakukan karena Damaskus berada di ambang melanggar "status quo yang disepakati dengan Israel dalam masalah keamanan" dengan mengizinkan pasukan Turki ditempatkan di Abu al-Duhur.

"Israel berulang kali memperingatkan Suriah bahwa penempatan seperti itu akan menjadi ancaman terhadap keamanan Israel. Suriah memilih mengabaikan peringatan tersebut," demikian pernyataan Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, sebagaimana dilaporkan Reuters pada Selasa, 18 Agustus 2026.

Israel menegaskan tidak akan membiarkan ancaman terhadap keamanannya muncul dari Suriah. Namun, justifikasi Israel itulah yang kemudian dipersoalkan Barrack.

Israel Disebut Bisa Saja 'Memancing' Turki

Dalam wawancara dengan Mario Nawfal yang dipublikasikan melalui platform X pada Jumat malam, 21 Agustus 2026, Barrack mengemukakan beberapa kemungkinan mengenai motif di balik serangan Israel.

Associated Press pada Sabtu, 22 Agustus 2026 melaporkan Barrack mengatakan salah satu kemungkinan adalah Israel sedang "baiting the Turks" atau "memancing Turki".

Namun, Barrack tidak menyatakan hal itu sebagai temuan intelijen. The Jerusalem Post pada Sabtu, 22 Agustus 2026 melaporkan Barrack secara khusus menegaskan bahwa ia sedang mengemukakan teori yang mungkin menjelaskan serangan tersebut. "Salah satu teorinya adalah Israel sedang memancing Turki," kata Barrack.

Ia menyebut pengoperasian pesawat tempur di dekat perbatasan tanpa koordinasi atau pemberitahuan sebagai "permainan yang sangat berbahaya". Barrack juga mengaitkan salah satu kemungkinan motif tersebut dengan pemilu Israel yang akan berlangsung pada 27 Oktober 2026.

Pemilu pada tanggal tersebut bukan spekulasi. Reuters pada Ahad, 12 Juli 2026 melaporkan kepala koalisi Netanyahu, Ofir Katz, mengonfirmasi pemilu nasional Israel akan digelar pada 27 Oktober.

Barrack mengatakan salah satu teorinya adalah tindakan tersebut merupakan langkah agresif yang mungkin diterima secara politik menjelang pemilu. Namun, sekali lagi, ia tidak memberikan bukti bahwa Netanyahu memerintahkan serangan demi kepentingan elektoral.

Kemungkinan lain yang diajukan Barrack justru lebih bersifat operasional: adanya miskomunikasi antara militer Israel, Mossad, dan Kantor Perdana Menteri Israel.

Associated Press melaporkan Barrack mengatakan mungkin saja terdapat intelijen Israel mengenai kemungkinan peningkatan kehadiran Turki, kemudian seorang komandan mengambil keputusan untuk mencegahnya.

Barrack mengatakan persoalannya adalah pihak Israel tidak memberi tahu Amerika Serikat maupun Turki mengenai pelaksanaan serangan tersebut.

Potensi Bentrok dengan Militer Turki

Risiko terbesar, menurut Barrack, bukan semata-mata serangan terhadap pangkalan Suriah. Masalahnya adalah bagaimana militer Turki dapat menafsirkan pesawat tempur Israel yang terbang menuju wilayah dekat perbatasannya tanpa mengetahui tujuan penerbangan tersebut.

Reuters pada Selasa, 18 Agustus 2026 mengutip Barrack yang mengatakan Turki tidak mendapat peringatan mengenai serangan Israel. Akibatnya, Ankara melihat pesawat bergerak ke utara menuju wilayahnya dan "secara masuk akal dapat mempersiapkan responsnya sendiri".

"Syukurlah, pihak-pihak yang berkepala dingin mampu mencegah situasi memburuk lebih jauh," kata Barrack kepada Reuters.

Dalam wawancara berikutnya dengan Nawfal, Barrack menggambarkan skenario yang lebih rinci. "Ketika mereka melihat jet-jet ini datang menuju perbatasan dan tidak mengetahui tujuan, arah atau maksudnya, mereka mulai mengatakan, 'Kami harus menerbangkan pesawat kami sendiri'," kata Barrack, sebagaimana dilaporkan Associated Press pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

Konteks historis membuat kekhawatiran tersebut tidak bisa dianggap ringan. Pada 2015, Turki menembak jatuh jet tempur Rusia Su-24 di sekitar perbatasan Turki-Suriah. Insiden tersebut memicu krisis serius antara Ankara dan Moskow.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |