REPUBLIKA.CO.ID, PONOROGO — Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor mendorong pengembangan Kampung Bambu di Desa Mojorejo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, agar tidak berhenti pada produksi kerajinan tradisional. Melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) Tahun Ketiga, pengrajin mulai diperkuat dengan teknologi tepat guna, inovasi desain, manajemen usaha hingga pemasaran digital.
Program pengabdian yang diketuai Prof Dr Mohammad Muslih tersebut melibatkan masyarakat, pelaku usaha, perguruan tinggi dan Pemerintah Desa Mojorejo. Dua mitra utama yang terlibat adalah Roemah Bamboe dan Deling Studio.
Pendampingan diarahkan pada persoalan yang dihadapi pengrajin dalam kegiatan sehari-hari. Roemah Bamboe difokuskan pada peningkatan kapasitas dan kualitas produksi, sedangkan Deling Studio didorong memperkuat kreativitas desain sekaligus memperluas pasar.
Mitra tidak hanya ditempatkan sebagai penerima program. Mereka dilibatkan dalam mengidentifikasi kebutuhan hingga menentukan arah pengembangan usaha sehingga teknologi dan pelatihan yang diberikan dapat menjawab persoalan yang mereka hadapi.
Sejumlah teknologi mulai diperkenalkan untuk meningkatkan mutu produk bambu. Di antaranya steam dryer untuk membantu pengolahan bahan baku, peralatan finishing elektrik, laser cutter hingga vacuum packaging.
Penggunaan teknologi tersebut diharapkan memperbaiki kualitas sekaligus meningkatkan nilai tambah produk. Pengrajin selama ini memiliki keterampilan mengolah bambu, tetapi peningkatan skala usaha menuntut konsistensi mutu, efisiensi produksi dan kemampuan menghasilkan desain yang lebih beragam.
Pendampingan tidak hanya menyentuh proses produksi. Program juga mencakup pembukuan digital, pengelolaan inventori, pemasaran melalui e-commerce, pengembangan desain eco-lifestyle, quality control hingga fotografi katalog.
Pelatihan dilakukan secara bertahap melalui workshop, praktik dan pendampingan. Pendekatan tersebut ditujukan agar teknologi tidak berhenti sebagai bantuan peralatan, tetapi dapat benar-benar digunakan dan dikembangkan sendiri oleh masyarakat.
Tahun ketiga program juga mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap pengembangan purwarupa produk. Penguatan kualitas, identitas merek dan pemasaran digital ditempatkan sebagai bagian penting untuk membawa produk bambu Mojorejo menjangkau konsumen yang lebih luas.
Dukungan Pemerintah Desa Mojorejo menjadi bagian penting dalam pengembangan program tersebut. Pemerintah desa telah dilibatkan sejak koordinasi dan sosialisasi awal agar pengembangan Kampung Bambu dapat terhubung dengan agenda pembangunan desa dan tidak berhenti setelah program perguruan tinggi selesai.
Kolaborasi itu mempertemukan tiga kekuatan. Perguruan tinggi menyediakan pengetahuan dan teknologi, masyarakat membawa keterampilan serta pengalaman produksi, sementara pemerintah desa memperkuat dukungan kelembagaan.
.png)
1 hour ago
1











































