Titik Temu Spiritualitas dan Manajemen di Pesantren

1 hour ago 1

Oleh: Muhamad Towil Akhirudin, Dosen Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Darunnajah, Jakarta dan Asesor Penjaminan Mutu Eksternal Pendidikan Pesantren Majelis Masyayikh

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pesantren di Indonesia memikul mandat historis dan sosiologis yang sangat istimewa. Lembaga ini teguh menjaga autentisitas tradisi keilmuan Islam klasik, sembari terus dituntut melahirkan generasi yang cakap menghadapi dinamika zaman dan lanskap ekonomi berbasis pengetahuan.

Namun, di tengah derap modernisasi yang kian deras, pesantren kerap dihadapkan pada ketegangan tata kelola yang tidak sederhana. Kepemimpinan spiritual kyai yang berakar kuat pada otoritas moral, legitimasi keilmuan, dan hubungan keteladanan dengan santri sering kali dipandang berjarak dari tuntutan akuntabilitas kelembagaan, partisipasi pemangku kepentingan, serta manajemen berbasis data.

Pandangan yang menempatkan tradisi spiritual dan manajemen modern sebagai dua kutub yang saling bertentangan terbantahkan oleh bukti-bukti empiris. Kajian literatur sistematis terhadap 240 artikel jurnal internasional bereputasi periode 2016 hingga 2026 membuktikan bahwa pesantren di tanah air sesungguhnya sedang bertransisi menuju model tata kelola hibrida yang kokoh dan teruji. Spiritualitas Islam dan instrumen manajemen modern terbukti tidak saling menegasikan, melainkan mampu saling menopang dalam satu tarikan napas kelembagaan.

Selama beberapa dekade terakhir, peta kajian tata kelola pesantren memang sempat terbelah menjadi dua arus besar. Arus teosentris menempatkan kharisma kyai, kepatuhan santri (tawadu'), dan orientasi moral sebagai poros penggerak utama. Pendekatan ini mengakar sangat kuat di wilayah-wilayah dengan tradisi pesantren klasik yang padat, seperti Jawa Barat, Yogyakarta, dan Aceh.

Sebaliknya, arus antroposentris lebih menitikberatkan pada akselerasi transformasi digital, perencanaan strategis terukur, dan pemenuhan standar akreditasi. Pendekatan yang berorientasi pada responsivitas pemangku kepentingan ini tumbuh subur di pusat-pusat perkotaan seperti Jakarta dan Surabaya, tempat pesantren berinteraksi langsung dengan kompetisi pasar dan regulasi negara.

Menariknya, dinamika riset beberapa tahun terakhir memperlihatkan lonjakan signifikan pada pendekatan integratif. Pesantren membuktikan bahwa adopsi manajemen modern bukanlah bentuk sekularisasi yang mengikis kesakralan lembaga. Sebaliknya, prinsip-prinsip tata kelola kontemporer berhasil dinaturalisasi dan diresapi melalui khazanah nilai Islam.

Akuntabilitas kelembagaan dimaknai secara mendalam sebagai manifestasi dari nilai amanah. Transformasi digital dijalankan bukan demi tren semata, melainkan untuk memperluas ruang dakwah dan pendalaman ilmu keagamaan (tafaqquh fi al-din). Begitu pula dengan integrasi pendidikan vokasi dan unit usaha ekonomi syariah yang diposisikan sebagai ikhtiar menjalankan kewajiban sosial kemasyarakatan (fardhu kifayah).

Keberhasilan tata kelola hibrida ini ditopang oleh hadirnya kepemimpinan yang berwawasan transformatif. Ketika figur kyai dan bu nyai memadukan ketajaman ilmu agama tradisional dengan kualifikasi pendidikan formal di bidang manajemen atau pendidikan, pembaruan kelembagaan dapat berlangsung mulus tanpa menimbulkan benturan kultural.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |