A Eddy Adriansyah
Agama | 2026-08-18 13:33:47
Ulama Islam Klasik yang secara khusus dan paling mendalam membahas tentang sabar dan syukur adalah Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, melalui karya monumental beliau yang berjudul ’Uddatush Shabirin wa Dzakhiratus Syakirin (Bekal Bagi Orang-orang yang Sabar dan Simpanan Bagi Orang-orang yang Bersyukur).
Kitab ’Uddatush Shabirin merupakan referensi utama dalam literatur Islam klasik yang mengupas tuntas hakikat sabar dan syukur secara berdampingan. Beliau mengulas kedua sifat ini dari sudut pandang bahasa, dalil Al-Qur'an dan Hadis, tingkatan-tingkatannya, hingga perdebatan ulama mengenai mana yang lebih utama antara orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang sabar.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan tentang definisi dan hakikat keduanya. Menurut beliau, sabar adalah menahan diri dari keluh kesah, sementara syukur adalah menampakkan bekas nikmat Allah pada lisan (pujian), hati (kesaksian), dan anggota badan (ketaatan).
Beliau membagi sabar menjadi tiga (sabar dalam ketaatan, sabar dari maksiat, dan sabar menghadapi takdir), selain menjelaskan bagaimana syukur dapat mengikat nikmat yang ada dan mendatangkan nikmat baru. Setelah membagi sabar menjadi tiga bagian dan menjelaskan bagaimana nikmatnya bersyukur, beliau menjelaskan lebih lanjut bahwa iman itu dibagi menjadi dua bagian, setengahnya sabar dan setengahnya lagi adalah syukur.
Sebagai ulama yang dikenal sebagai ahli dalam bidang tazkiyatun nafs, Ibnu Qayyim tidak hanya menyodorkan teori belaka, tetapi juga merumuskan terapi praktis untuk melatih jiwa, agar mampu bersabar saat diuji dan ingat bersyukur saat diberi nikmat.
Terapi praktis dari Ibnu Qayyim al-Jauziyyah untuk melatih jiwa bersabar dan bersyukur berpusat pada manajemen pikiran (kognitif) dan pengelolaan sudut pandang (mindset). Beliau menekankan bahwa hati hanya bisa merespons sebuah kejadian berdasarkan cara pikiran mengartikan kejadian tersebut. Berikut adalah terapi praktis dalam menerapkan sabar dan syukur yang disarikan dari kitab ’Uddatush Shabirin yang dapat langsung kita terapkan sehari-hari.
1. Terapi Praktis untuk Melatih Sabar Saat Diuji
Ibnu Qayyim mengajarkan metode berpikir terstruktur (kontemplasi) saat musibah datang untuk meredam kepedihan hati melalui beberapa cara:
• Cara pertama, fokus pada meringankan beban hati dan pikiran. Sadari bahwa ujian yang menimpa kita bisa saja jauh lebih buruk. Misalnya, ketika kita kehilangan harta, alihkan fokus pada nikmat lain yang masih kita miliki. Sadari sepenuhnya bahwa walau kita kehilangan harta, kita tidak kehilangan keselamatan, kesehatan, atau—yang lebih dalam lagi—tidak mengalami rusaknya iman.
• Cara kedua, pahami durasi ujian di dunia. Ingatlah bahwa dunia ini fana dan waktu ujian sangat singkat. Kesulitan hari ini pasti akan menjadi masa lalu, baik cepat ataupun lambat.
• Cara ketiga, fokus pada janji Allah bagi orang yang bersabar, yaitu akan mendapatkan pahala tanpa batas. Alihkan fokus dari rasa sakit fisik atau material ke keuntungan yang akan didapatkan di akhirat yang kekal. Ingat bahwa pahala sabar adalah salah satu dari sedikit pahala yang diberikan tanpa hitungan matematis (bi ghairi hisab).
• Cara keempat, memutus sumber keluh kesah. Latih lisan untuk langsung mengucapkan istirja (Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un) pada hentakan pertama musibah. Mengeluh kepada makhluk tidak akan menyelesaikan masalah, melainkan hanya menambah beban mental.
2. Terapi Praktis untuk Melatih Syukur Saat Diberi Nikmat
Menurut Ibnu Qayyim, ujian terbesar ketika mendapat nikmat adalah “kebutaan spiritual”, yaitu menganggap nikmat sebagai sesuatu yang biasa. Hati yang buta lama-lama akan rentan dijangkiti penyakit kufur nikmat, yaitu ingkar terhadap nikmat yang Allah limpahkan. Agar hal tersebut tidak terjadi, beliau menganjurkan beberapa cara sebagai terapi:
• Cara pertama, senantiasa memandang ke bawah ketika dikaruniai nikmat. Sadari sepenuhnya dan lihatlah orang-orang yang posisinya berada di bawah kita dalam urusan dunia (harta, kesehatan, fasilitas). Ini adalah cara paling cepat untuk menimbulkan perasaan cukup (qana'ah).
• Cara kedua, ikatlah nikmat dengan lisan. Setiap kali merasakan nikmat, nyaman, tenteram, atau lezat, ucapkan hamdalah dengan kesadaran penuh. Yakini bahwa nikmat itu murni pemberian Allah, bukan semata-mata karena kehebatan atau kerja keras kita.
• Cara ketiga, jadikan nikmat sebagai energi. Gunakan nikmat tersebut untuk ketaatan. Jika diberi fisik yang sehat, gunakan untuk membantu orang lain. Jika diberi kelebihan harta, gunakan untuk bersedekah. Selalu sadari bahwasanya menolak menggunakan nikmat untuk maksiat adalah bentuk tertinggi dari syukur jasmaniah.
Agar kedua terapi ini berhasil, Ibnu Qayyim menyatakan kuncinya adalah mengenal Allah (ma'rifatullah). Ingat, kenali dan hayati sifat Al-’Adl dan Ar-Rahiim ketika kita ditimpa ujian kesulitan.
Dengan menghayati sifat Al-’Adl, kita akan memahami bahwa Allah Maha Adil. Dia menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dan menetapkan hukum atau keputusan dengan sangat seimbang tanpa pernah berbuat zalim. Dengan menghayati sifat Ar-Rahiim, kita akan memahami bahwa Allah Maha Penyayang. Dia melimpahkan kasih sayang tiada henti kepada manusia dan seluruh makhluk, apalagi mereka yang beriman kepada-Nya. Kita akan sadar bahwa sabar pada ujian-Nya ibarat vitamin yang menyehatkan, sekaligus obat pahit yang menyembuhkan.
Selain menafakuri sifat Al-’Adl dan Ar-Rahiim, jangan luput dari menafakuri sifat Al-Wahhab saat kita mendapatkan nikmat. Melalui sifat Al-Wahhab, Allah melimpahkan karunia-Nya kepada kita tanpa pamrih. Dia memberi tanpa batas kepada orang-orang yang menaati-Nya, bahkan kepada mereka yang tampak ingkar pun Allah tidak menahan pemberian-Nya. Ketika kita tahu betapa Maha Pemberinya Allah, kita akan peka ketika mendapatkan nikmat. Suatu nikmat tidak akan lagi kita hitung banyak sedikitnya atau kita ukur besar kecilnya. Semua nikmat yang datang dari Allah menjadi terasa istimewa.(aea)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
1 hour ago
1












































