
Soroti Pertemuan Prabowo-Putin dan Sjafrie Sjamsoeddin-Menhan AS, ISDS: Manuver Ciamik nan Berisiko (Biro Pers Setpres)
JAKARTA - Indonesia Strategic & Defense Studies (ISDS) menilai langkah Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin sebagai manuver ciamik nan berisiko.
Diketahui, Prresiden Prabowo baru saja bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin, Senin (13/4/2026) waktu setempat. Di waktu nyaris bersamaan, Sjafrie Sjamsoeddin bertemu Menteri Perang AS Pete Heghset.
Menurut Co Founder ISDS, Edna Caroline, pertemuan tersebut bisa dilihat sebagai manuver cantik di tengah menyempitnya ruang geopolitik.
Ia menjelaskan, perang Iran menegaskan kembali persepsi menurunnya hegemoni AS. Walaupun AS tetap menjadi negara terkuat saat ini, tetapi perilakunya yang merusak tatanan dunia mempercepat perubahan geopolitik. Dunia ke depan akan dipengaruhi beberapa kekuatan besar dengan aturan main yang berbeda dengan saat AS menjadi satu-satunya hegemoni.
Beberapa kekuatan tersebut yang berada di Asia-Pasifik di antaranya AS, China India, dan Jepang serta ditambah Rusia dan NATO.
"Indonesia yang berada di tengah persilangan geopolitik, apalagi dekat dengan Laut China Selatan yang diperkirakan rentan menjadi titik konflik di masa depan tentu perlu mengambil kesempatan. Tetapi, Indonesia juga harus berhati-hati karena pastinya semua kekuatan di atas akan berebut pengaruh bahkan bisa berkonflik di kawasan Asia-Pasifik," kata Edna dalam keterangan tertulis, Selasa (14/4/2026).
"Pertanyaannya, bagaimana Indonesia mengambil manfaat dan menghindar untuk dimanfaatkan berlebihan dalam dunia dengan tatanan yang baru ini?
Pertama dengan Rusia, ia menjelaskan, kerja sama energi tentunya menjamin stabilitas keamanan energi Indonesia ke depan. Namun yang juga strategis adalah kerja sama membangun tenaga nuklir dan antariksa. Dua hal ini di sisi lain tentunya akan menimbulkan kekhawatiran di regional, apa keinginan Indonesia dengan agendaagenda yang progresif ini.
"Hal ini yang kemudian diantisipasi dengan kunjungan dan kerja sama Pertahanan antara RI dan AS. Dengan kata lain, Indonesia menunjukkan sinyal politik Internasional, bahwa politik bebas aktif tetap dilakukan dengan bekerja sama dengan Rusia, tetapi juga dengan AS. Ada kepentingan AS di kawasan yang juga diakomodir Indonesia," tuturnya.
Dari berbagai agenda kerja sama pertahanan RI-AS, yang menunjukkan penekanan pada
kepentingan AS adalah exercise dan operational cooperation. Selama bertahun-tahun AS adalah mitra militer Indonesia yang paling banyak latihan bersama yaitu sekitar 170 latihan per tahun.
"Ini bisa dikatakan tiap hari ada hubungan person to person antara personil TNI dan tentara AS. Kepentingan Indonesia adalah semakin meningkatnya profesionalisme TNI yang bisa belajar dari militer AS yang kerap bertempur di mana-mana. Apalagi ditambah, militer AS adalah salah satu contoh terkait peran dan posisi militer dalam negara demokrasi," tutur Edna.
Sementara kepentingan AS, menurutnya adalah bagaimana tentaranya bisa mengerti dan punya data wilayah Asia Pasifik dan yang utama adalah membiasakan tentaranya dan menyesuaikan alat bertempur di wilayah dengan iklim tropis yang lembab di pulau-pulau.
"Yang perlu diwaspadai tentunya adalah klausul 'kerja sama operasional. Dalam hal ini,
Kementerian Pertahanan RI perlu menjelaskan pada publik, apa rincian dari kerja sama
operasional ini," ucapnya.
.png)
7 hours ago
3















































