Presiden Prabowo Subianto (ketiga kanan) menyaksikan Presiden AS Donald Trump (C) memegang piagam pendirian Dewan Perdamaian saat World Economic Forum (WEF) 2026 di Congress Hall, Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Dewan Perdamaian (Board of Peace/ BoP) yang dibentuk Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump adalah cara Amerika dan Israel menghadapi tekanan global.
Hal tersebut disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, Profesor Sudarnoto Abdul Hakim saat diskusi Board of Peace: Politik Luar Negeri Indonesia dan Nasib Gaza di Menara Tanwir PP Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (28/1/2026)
Sudarnoto mengatakan, Dewan Perdamaian adalah bagian dari siasat Amerika. Juga terkait dengan sejarah panjang tahun 1948, sebagaimana diketahui ada pengusiran, perang dan lain sebagainya. Sampai sejarah 7 Oktober 2023 hingga hari ini.
"7 Oktober itu, saya ingin mengatakan adalah runtuhnya mitos kedigdayaan Israel, tapi (peristiwa) itu bikin marah Amerika dan Israel," kata Sudarnoto.
Setelah peristiwa 7 Oktober 2023, Israel melakukan genosida yang kian masif di Gaza. Membunuh anak-anak dan wanita serta warga sipil lainnya.
"Kemudian gencatan senjata, beberapa kali gencatan senjata, Hamas oke (sepakat dengan gencatan senjata), tapi (Hamas) selalu dikhianati (Israel saat gencatan senjata)," ujarnya.
Sudarnoto menegaskan, saat gencatan senjata, warga Gaza tetap dibunuh oleh Israel. Sekarang, setelah adanya Dewan Perdamaian, coba hitung berapa warga Gaza yang tetap dibunuh Israel.
Donald Trump bersama Dewan Perdamaian juga bungkam ketika Israel tetap membunuh warga Gaza. Tidak ada pemihakan dari Donald Trump bersama Dewan Perdamaian.
"Yang ingin saya katakan (Dewan Perdamaian) itu adalah skenario Donald Trump, Amerika dan Israel ketika global pressure (tekanan global menguat) kepada dua negara itu sehingga tersingkir secara global dalam konteks diplomasi dan politik," ujar Sudarnoto.
.png)
3 hours ago
1














































