REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Kementerian Agama (Kemenag) memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW melalui rangkaian Blissful Mawlid 1448 H. Salah satu agenda utamanya adalah 'Gema Selawat Kebangsaan', gerakan nasional yang mengajak masyarakat memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW. melalui selawat dan keteladanan, dengan target keterlibatan 1.781.945 peserta dari berbagai penjuru Indonesia.
Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, mengatakan, 'Gema Selawat Kebangsaan' dirancang sebagai ruang bersama untuk menghidupkan tradisi selawat sekaligus meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
“Rabiulawal adalah momentum untuk memperbanyak selawat dan memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW. Tetapi cinta tidak cukup berhenti pada lantunan selawat. Cinta harus berlanjut menjadi keteladanan dengan menghadirkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan: kasih sayang, persaudaraan, kepedulian, dan kecintaan kepada Tanah Air,” ujar Muchlis di Jakarta, Ahad (23/8/2026).
Menurut Muchlis, target 1.781.945 peserta dipilih sebagai simbol 17 Agustus 1945, momentum kemerdekaan Indonesia. Angka tersebut sekaligus membawa pesan bahwa kecintaan kepada Rasulullah dapat menjadi energi spiritual untuk merawat persatuan dan kecintaan kepada Tanah Air.
“Shalawat untuk negeri berarti menghadirkan nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah saw. dalam merawat Indonesia. Semangat berselawat harus mendorong kita membangun kehidupan yang damai, adil, saling menghormati, dan penuh kepedulian terhadap sesama,”kata dia.
Shalawat kebangsaan untuk negeri juga diharapkan menjadi ikhtiar spiritual sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak bencana. Di tengah gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, Gema Selawat Kebangsaan mengajak masyarakat mendoakan serta menunjukkan solidaritas kepada masyarakat yang tengah menghadapi ujian.
Salah satu rangkaian utama 'Gema Selawat Kebangsaan' adalah pembacaan dan khataman Dalā’il al-Khayrāt, karya Imam Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli, ulama besar Maroko abad ke-9 Hijriah. Kitab yang menghimpun shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. ini telah dibaca lintas generasi di berbagai wilayah dunia Islam dan menjadi bagian dari khazanah serta tradisi keagamaan umat Islam Indonesia.
.png)
14 hours ago
4
















































