Otentik Art
Gaya Hidup | 2026-01-20 12:55:31
Banyak orang ingin berubah, tetapi sedikit yang benar-benar bertahan dalam perubahan. Kita ingin rajin berolahraga, lebih disiplin beribadah, membaca buku, atau berhenti menunda pekerjaan. Namun, niat baik sering kalah oleh kebiasaan lama. Pertanyaannya, apakah manusia memang sulit berubah?
Sains perilaku modern justru menunjukkan sebaliknya. Manusia bisa berubah—asal tahu caranya. Mengubah kebiasaan bukan sekadar soal motivasi, melainkan proses sistematis untuk memprogram ulang cara kerja otak.
Memahami Siklus Kebiasaan
Charles Duhigg dalam bukunya The Power of Habit menjelaskan bahwa setiap kebiasaan bekerja dalam satu siklus yang disebut habit loop. Siklus ini terdiri dari tiga elemen utama.
Pertama adalah petunjuk (cue), yaitu pemicu yang memberi sinyal kepada otak untuk bertindak. Petunjuk bisa berupa waktu, tempat, emosi, atau situasi tertentu. Misalnya, rasa lelah setelah pulang kerja atau suara notifikasi ponsel.
Kedua adalah rutinitas (routine), yakni perilaku atau tindakan yang dilakukan sebagai respons terhadap petunjuk tersebut. Rutinitas inilah yang kita kenal sebagai kebiasaan, baik maupun buruk.
Ketiga adalah imbalan (reward). Otak selalu mencari kepuasan. Jika suatu perilaku memberikan rasa senang, lega, atau nyaman, otak akan menyimpannya sebagai pola yang layak diulang.
Selama tiga elemen ini tidak diubah, kebiasaan akan terus berulang—bahkan tanpa kita sadari.
Empat Aturan Perubahan Perilaku
James Clear dalam buku Atomic Habits merumuskan pendekatan praktis untuk membangun kebiasaan baik dan menghilangkan kebiasaan buruk. Prinsipnya sederhana, tetapi sangat aplikatif.
Untuk membangun kebiasaan baik, langkah pertama adalah menjadikannya terlihat. Otak lebih mudah bertindak jika pemicunya jelas. Menaruh alat olahraga di depan pintu jauh lebih efektif daripada menyimpannya di lemari.
Langkah kedua, jadikan kebiasaan itu menarik. Kita bisa menggabungkan hal yang “harus” dilakukan dengan hal yang “ingin” dilakukan. Misalnya, hanya mendengarkan podcast favorit saat sedang berjalan kaki.
Ketiga, jadikan mudah. Banyak kebiasaan gagal bukan karena sulit, tetapi karena terasa berat untuk memulai. Aturan dua menit menjadi kunci: mulai kebiasaan baru dalam bentuk paling kecil, seperti hanya membuka buku atau memakai sepatu lari.
Keempat, jadikan memuaskan. Otak menyukai kepuasan instan. Memberi apresiasi kecil setelah berhasil melakukan kebiasaan—meski sederhana—akan memperkuat perilaku tersebut.
Sebaliknya, untuk menghilangkan kebiasaan buruk, prinsipnya dibalik: jadikan tidak terlihat, tidak menarik, sulit dilakukan, dan terasa mengecewakan.
Kekuatan Penumpukan Kebiasaan
Salah satu strategi paling efektif dalam perubahan perilaku adalah habit stacking atau penumpukan kebiasaan. Intinya, kebiasaan baru akan lebih mudah terbentuk jika “ditempelkan” pada kebiasaan lama yang sudah mengakar.
Rumusnya sederhana:
“Setelah [kebiasaan lama], saya akan [kebiasaan baru].”
Contohnya, setelah menyeduh kopi pagi, seseorang menulis jurnal selama satu menit. Karena kebiasaan lama sudah otomatis, kebiasaan baru ikut terbawa tanpa perlu berpikir keras.
Perubahan besar sering kali lahir dari tindakan kecil yang konsisten.
Fokus pada Identitas, Bukan Sekadar Target
Kesalahan umum dalam membangun kebiasaan adalah terlalu fokus pada hasil. Kita ingin turun 10 kilogram, khatam Al-Qur’an, atau produktif setiap hari. Padahal, perubahan yang bertahan lama justru berangkat dari identitas.
Alih-alih bertanya, “Apa yang ingin saya capai?”, pertanyaannya diubah menjadi, “Saya ingin menjadi orang seperti apa?”
Setiap tindakan kecil adalah satu suara yang memperkuat identitas tersebut. Ketika seseorang rutin bergerak, meski sebentar, ia sedang membangun identitas sebagai orang yang aktif. Dari identitas itulah kebiasaan tumbuh secara alami.
Saat Gagal, Jangan Menyerah
Dalam proses perubahan, kegagalan hampir pasti terjadi. Namun, kegagalan satu hari tidak berarti kegagalan selamanya. Prinsip penting yang perlu dipegang adalah: jangan melewatkan dua hari berturut-turut.
Konsistensi lebih penting daripada intensitas, terutama di tahap awal. Perubahan sejati bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang kembali bangkit setiap kali terjatuh.
Mengubah kebiasaan pada akhirnya adalah perjalanan memahami diri sendiri. Ia menuntut kesabaran, kesadaran, dan strategi yang tepat. Dengan pendekatan yang sistematis, perubahan bukan lagi sekadar harapan, melainkan proses yang bisa diupayakan—sedikit demi sedikit, tetapi nyata.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
1 hour ago
1



































