Mengapa Iran Dan Amerika Serikat Sulit Berdamai?

5 hours ago 3

Opini , Jurnalis-Selasa, 12 Mei 2026 |12:35 WIB

Mengapa Iran Dan Amerika Serikat Sulit Berdamai?

Ridwan Al-Makassary, Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia dan Direktur COMPOSE.

Penulis: Ridwan Al-Makassary, Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE)

PERANG klasik acap berakhir dengan kekalahan satu pihak secara nyata, seperti menyerahnya Jepang kepada Amerika Serikat (AS) dan sekutunya pada 15 Agustus 1945 (waktu Jepang), yang diumumkan langsung oleh Kaisar Hirohito setelah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki. Sebaliknya, perang modern jarang berakhir dengan takluknya satu pihak. Ia lebih acap berhenti karena kelelahan, jeda, atau kebingungan. Karenanya, tidak ada garis yang tegas antara damai dan perang. Malahan, yang ada hanyalah pengurangan intensitas kekerasan, yang diberi nama diplomasi. Itulah yang kini tampak dalam perang Iran 2026. Dunia menyebutnya sebagai gencatan senjata. Tetapi, banyak tanda menunjukkan bahwa yang terjadi sesungguhnya adalah damai semu dengan perang kata-kata dan letusan rudal yang masih terjadi.

Setelah berminggu-minggu ketegangan merundung kawasan Teluk, dengan pelbagai serangan rudal, drone, dan juga ancaman terhadap jalur energi global di Selat Hormuz, Iran dikabarkan menyahuti proposal damai AS melalui Pakistan. Respons Iran itu tidak menolak, tetapi juga tidak menerima sepenuhnya. Iran, prinsipnya, menghendaki penghentian perang yang dibahas lebih dulu, sementara isu nuklir dan konsesi strategis lainnya ditunda ke tahap berikutnya. Amerika Serikat, di lain pihak, tentu menginginkan sebaliknya, yaitu penyelesaian keamanan harus sekaligus menyentuh sumber ancaman dan akar masalah jangka panjang.

Perbedaan itu tampaknya teknis, tetapi sesungguhnya sangat mendasar. Iran ingin menghentikan api lebih dulu, sedangkan AS ingin mematikan sumber bensinnya sekaligus. Ketika dua negara berunding bukan untuk menyelesaikan konflik, melainkan untuk mengatur ulang posisi tawar, maka negosiasi diplomatik berubah menjadi ruang jeda. Setiap proposal damai yang diajukan sebagai bagian dari diplomasi acap hanya perpanjangan dari kalkulasi militer di lapangan. Serangan berhenti bukan karena kepercayaan yang tumbuh, melainkan karena masing-masing pihak sedang membeli waktu dan menghitung biaya perang berikutnya.

Tekanan militer dan blokade AS atas pelabuhan-pelabuhan Iran memang nyata, sehingga Iran mencoba opsi lain untuk produksi minyaknya. Namun, Iran memiliki alasan kuat untuk memainkan strategi waktu, karena kemampuan bertahan Iran juga telah terbukti. Ia menyampaikan pesan politik bahwa Iran tidak mudah diintimidasi. Dengan tidak menyerah, Teheran menunjukkan kepada publik domestik dan sekutunya, termasuk ke yang utama AS: Republik Iran itu tidak mudah dipaksa tunduk dan takluk. Dalam politik Iran, bertahan kadang sama berharganya dengan menang.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari

Follow

Berita Terkait

Telusuri berita news lainnya

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |