Membaca Framing Media atas Migran Maroko

2 hours ago 1

Image Shilva Lioni

Info Terkini | 2026-08-19 12:54:00

https://www.shutterstock.com

Beberapa waktu lalu, puluhan warga Maroko diberitakan berenang menuju wilayah Ceuta menyeberangi Laut Mediterania menuju Spanyol. Gambar-gambar yang menampilkan momen tersebut berulang kali dimuat dan ditampilkan pada halaman depan surat kabar, layar televisi Eropa, dan memenuhi media sosial di berbagai penjuru dunia. Namun, yang menarik dari pemberitaan ini bukan hanya terletak pada pemberitaan terkait peristiwanya semata, melainkan bagaimana cara peristiwa itu diceritakan.

Dalam banyak pemberitaan, warga Maroko lebih dahulu diperkenalkan sebagai illegal migrants, "gelombang migran ilegal", "penyusup", atau "ancaman terhadap perbatasan" sebelum publik mengetahui siapa mereka, mengapa mereka datang, atau apa yang mereka tinggalkan. Identitas mereka seakan telah selesai dibentuk oleh bahasa dan media.

Bahasa sering dianggap sebagai alat untuk menggambarkan kenyataan. Padahal, lebih jauh bahasa juga membentuk kenyataan itu sendiri. Kata-kata yang dipilih media dapat menentukan aspek mana yang dianggap penting dan aspek mana yang turut menghilang dari perhatian publik. Dalam proses ini, bahasa seringkali difungsikan tidak hanya untuk melaporkan dunia semata, tetapi juga ikut menyusunnya. Di sinilah kata seringkali berubah menjadi tembok.

Dalam kasus warga Maroko ini, pada banyak pemberitaan internasional perhatian sering kali lebih dahulu diarahkan pada ancaman terhadap perbatasan Eropa daripada menyorot kisah manusia-manusia yang mempertaruhkan nyawanya. Sebuah judul menyebut "gelombang migran menyerbu perbatasan" tentu menghadirkan citra yang berbeda dibandingkan judul yang berbunyi "ratusan orang mempertaruhkan nyawa menyeberangi laut". Dalam konteks ini, fakta yang dilaporkan mungkin benar sama adanya, tetapi makna sosial yang dihasilkan dapat berbeda.

Lebih jauh, pilihan bahasa pada dasarnya tidak berdiri sendiri. Dalam analisis wacana kritis, Teun A. van Dijk menunjukkan bahwa wacana sering kali mereproduksi relasi kekuasaan dalam teks bahasa. Ketika kelompok tertentu terus-menerus diasosiasikan dengan kriminalitas, kekacauan, atau ketidakteraturan, masyarakat dapat menerima asosiasi tersebut sebagai sesuatu yang alamiah. Padahal, yang tampak sebagai "kenyataan" sering kali merupakan hasil dari pengulangan narasi.

Robert M. Entman bahkan menjelaskan dalam teori framingnya, bahwa media bekerja dalam hal ini dengan memilih elemen tertentu dari sebuah peristiwa untuk dibuat lebih menonjol. Pilihan-pilihan yang tampak sederhana seperti judul, diksi, foto, atau kutipan narasumber memiliki dampak yang sangat besar dalam mengkontruksi makna. Ketika berita lebih sering berbicara tentang "penjagaan perbatasan" daripada "penyelamatan manusia", fokus pembaca akan bergeser yakni dari persoalan kemanusiaan menuju persoalan keamanan.

Framing dalam hal ini pada dasarnya tidak mengubah fakta, tetapi mengubah bagaimana cara fakta dipahami. Lebih lanjut, foto-foto perahu yang penuh sesak, pagar kawat berduri, patroli bersenjata, dan kerumunan migran yang berlari dalam hal ini tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi visual. Ketika dipadukan dengan narasi tentang "krisis", "invasi", atau "ancaman", gambar-gambar tersebut dapat membentuk mitos bahwa migrasi identik dengan bahaya dimana lambat laun, pembaca tidak lagi melihat individu-individu yang berbeda, melainkan sebuah kategori yang dianggap seragam.

Sejatinya, setiap negara memiliki hak untuk mengatur wilayah perbatasannya, menentukan prosedur masuk, dan menegakkan aturan keimigrasian. Akan tetapi, di luar persoalan hukum, terdapat persoalan lain yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana bahasa media membentuk persepsi publik mengenai siapa yang dianggap layak diterima dan siapa yang diposisikan sebagai ancaman.

Media tidak sekadar menyampaikan fakta. Media memilih fakta mana yang ditonjolkan, fakta mana yang dikesampingkan, dan bahasa apa yang digunakan untuk menjelaskan sebuah peristiwa. Pilihan-pilihan itulah yang kemudian membentuk apa yang disebut sebagai framing.

Dalam kasus migrasi Maroko menuju Spanyol, framing sering kali menempatkan persoalan pada aspek keamanan perbatasan. Judul berita seperti "Gelombang Migran Ilegal Menyerbu Ceuta" atau "Ratusan Migran Menerobos Perbatasan" segera mengarahkan perhatian pembaca pada kata-kata seperti gelombang, menerobos, atau menyerbu. Pilihan diksi tersebut membangun kesan bahwa yang datang bukan individu dengan latar belakang yang beragam, melainkan sebuah massa yang mengancam stabilitas negara.

Secara linguistik, konteks penggunaan kata-kata ini biasanya lazim dipakai untuk konteks bencana alam atau operasi militer sehingga ketika diterapkan kepada manusia, bahasa itu tentu membangun kesan bahwa migran bukan lagi individu dengan latar belakang yang beragam, melainkan massa anonim yang harus dihadapi. Padahal, pilihan bahasa selalu membawa konsekuensi seperti halnya foto yang sama dapat menghasilkan makna yang berbeda apabila dibingkai secara berbeda.

Seorang laki-laki yang menggendong anaknya di tengah ombak dapat dipahami sebagai "penyusup" atau sebagai "seorang ayah yang mempertaruhkan nyawanya demi masa depan keluarganya". Fakta visual yang ditampilkan mungkin bisa sama, tetapi makna sosialnya bisa berubah tergantung bagaimana cara media mengonstruksi narasi.

Lebih lanjut, masyarakat tentu berhak mendukung pengelolaan perbatasan yang tertib dan aman. Namun, pada saat yang sama, masyarakat juga perlu kritis terhadap bahasa yang dapat digunakan untuk menggambarkan manusia. Sebab, ketika sebuah label menghapus kisah hidup, keluarga, dan perjuangan menantang kematian serta alasan seseorang bermigrasi, kita tidak lagi sedang membaca realitas secara utuh. Kita sedang membaca realitas yang telah dipilihkan untuk kita.

Persoalan migrasi bukan hanya persoalan hukum, melainkan juga persoalan kemanusiaan dan representasi. Cara kita berbicara tentang migran akan menentukan cara kita memperlakukan mereka. Sebelum kita menerima begitu saja label "illegal migrant", mungkin ada baiknya kita perlu bertanya lebih dahulu: apakah yang sedang kita lihat adalah pelanggaran hukum, ataukah sebuah narasi yang secara perlahan membuat sebagian manusia tampak tidak layak diterima?

Peristiwa migrasi memang bukan isu yang sederhana. Negara memiliki hak untuk menjaga perbatasannya, mengatur arus migrasi, dan menegakkan hukum keimigrasian. Pada saat yang sama, setiap orang yang bermigrasi juga membawa kisah, alasan, dan kondisi yang tidak selalu dapat diringkas menjadi satu kategori. Tantangan media adalah menjelaskan kompleksitas itu tanpa menghilangkan salah satu sisinya.

Pada akhirnya, migrasi akan terus menjadi bagian dari sejarah manusia. Orang akan terus berpindah karena perang, kemiskinan, perubahan iklim, pendidikan, atau harapan akan kehidupan yang lebih baik. Yang akan menentukan kualitas peradaban kita bukan hanya bagaimana negara mengelola perbatasan, tetapi juga bagaimana media dan masyarakat memilih untuk melihat mereka apakah sebagai ancaman yang harus ditakuti, atau sebagai manusia yang kisahnya layak dipahami sebelum dihakimi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |