
Oleh: KH Dr Aguk Irawan, aktivis NU, Pengasuh Pesantren Baitul Kilmah Bantul Yogyakarta
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Ada sesuatu yang cemas ketika sebuah organisasi besar merayakan umurnya yang melampaui satu abad.
Di panggung-panggung seremonial, pidato-pidato berdentum tentang kejayaan masa lalu, tentang jumlah jemaah yang berlipat ganda, dan tentang pengaruh politik yang tak bisa diabaikan. Namun, di sudut yang sunyi, selalu ada seseorang yang gelisah.
Seseorang yang tahu bahwa menara yang tinggi tak akan tegak hanya dengan megahnya fasad, melainkan pada ketahanan akarnya di dalam tanah yang basah dan gelap.
Kegelisahan itulah yang mengetuk kita saat membaca buku terbaru KH Imam Jazuli, Lc MA, berjudul NU Abad Kedua: Merawat Akar, Menjemput Masa Depan (Damai Benawa Semesta, September 2026).
Buku setebal 148 halaman ini seperti selembar cermin yang diletakkan secara paksa di depan wajah sebuah raksasa bernama Nahdlatul Ulama.
Ia tidak hadir untuk memuji, melainkan untuk mengajak bercermin. Dan sebagaimana cermin yang jujur, ia kerap kali memperlihatkan retak-retak yang selama ini coba ditutupi oleh bedak seremonial.
Sejarah memang sering kali menjadi beban ketika ia hanya dirayakan sebagai romansa, bukan sebagai guru yang menuntut evaluasi.
Kiai Imam Jazuli tampaknya paham betul akan bahaya romantisme itu. Sebagai seorang muharrik (penggerak) kultural yang telah merintis sekolah politik santri, pembumisasian ijazah Dalailul Khairat kepada puluhan ribu jamaah, serta menkonsolidasikan ribuan kiai, dai, dan bu nyai melalui berbagai workshop dan seminar.
Kegelisahan penulisnya bukanlah sinisme orang luar. Ini adalah otokritik seorang anak kandung yang pernah berada di lingkaran struktural sebagai Wakil Ketua RMI Pusat periode 2010–2015.
Kritik dalam buku ini adalah wujud dari kecintaan yang bertanggung jawab, bukan bentuk ketidaksetiaan. Penulis tidak sedang meragukan NU; ia sedang mencemaskan NU.
Buku yang berisi kumpulan tulisan lepas yang sebelumnya bertebaran di Kompas, Detik, Tribune, dan Republika ini membentangkan lanskap persoalan yang sangat luas: dari tata kelola organisasi, eksistensi pesantren, nalar warga, kedaulatan data, dakwah digital, relasi NU-PKB, ekologi, hingga perdebatan yang belakangan riuh—soal nasab. Semua problem itu bermuara pada satu kata kunci: transformasi.
Salah satu daya pikat sekaligus keberanian buku ini adalah kelugasannya menyentuh wilayah yang selama ini dianggap sakral atau setidaknya, tabu untuk digugat secara terbuka.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
.png)
22 hours ago
7
















































