JAKARTA - Hari Raya Iduladha sudah di depan mata, momen dimana umat Islam melaksanakan ibadah kurban sebagai bentuk keikhlasan kepada Allah SWT serta kepedulian terhadap sesama. Ibadah kurban juga merupakan sarana menumbuhkan empati dan solidaritas sosial dalam masyarakat yang saat ini semakin individualistis, sebagaimana dipaparkan dalam khutbah Jum'at berjudul: "Menumbuhkan Empati dan Solidaritas Sosial Melalui Kurban”, sebagaimana dilansir dari NU Online.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الزَّمَانَ مِيْدَانًا لِلطَّاعَةِ، وَفَضَّلَ بَعْضَ الشُّهُوْرِعَلَى بَعْضٍ بِحِكْمَةٍ بَالِغَةٍ، فَجَعَلَ مِنْهَا شَهْرَ َذِيْ الْحِجَّةِ شَهْرًا حَرَامًا، وَمُوْسِمًا لِزِيَادَةِ التَّقْوَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْقِذُنَا مِنْ عَذَابِهِ وَتُبَلِّغُنَا رِضْوَانَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ يَحُثُّ أُمَّتَهُ عَلَى الطَّاعَاتِ وَالْقُرُبَاتِ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah Swt. Atas limpahan nikmat-Nya, manusia tidak akan mampu menghitung karunia yang telah Dia berikan, sekecil apa pun nikmat itu. Karena itu, setiap Muslim wajib menghadirkan rasa syukur, bukan hanya melalui ucapan lisan, tetapi juga melalui amal dan ketaatan dalam kehidupan sehari-hari.
Wujud syukur yang paling nyata ialah ketika seseorang meningkatkan ketakwaannya kepada Allah Swt. dengan sungguh-sungguh. Ia menjalankan setiap perintah-Nya dengan penuh kesadaran dan menjauhi setiap larangan-Nya dengan penuh keikhlasan. Dalam Islam, ketakwaan tidak cukup hadir dalam ibadah ritual semata, tetapi juga harus tampak dalam kepedulian sosial terhadap sesama manusia.
Salah satu perintah Allah Swt. yang sangat ditekankan ialah berbagi rezeki kepada orang lain, terutama kepada mereka yang hidup dalam kekurangan. Sebaliknya, Allah Swt. melarang manusia memiliki sifat individualistis, gemar menimbun harta, serta enggan membantu sesama.
Allah Swt. berfirman:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ
Artinya: “Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya.” (QS. Ali ‘Imran: 92).
Ayat tersebut menegaskan bahwa kebajikan tidak lahir dari banyaknya harta yang dimiliki, melainkan dari keikhlasan seseorang dalam berbagi. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk hidup hanya bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, Islam mengajarkan kepedulian, empati, dan semangat saling menolong.
.png)
17 hours ago
5
















































