Kemendikdasmen Dorong Literasi, Numerasi, dan STEM Berbasis PISA

22 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membagikan praktik transformasi pendidikan pada sejumlah sekolah melalui penguatan budaya literasi, numerasi, serta integrasi pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) berbasis kompetensi PISA (Program for International Student Assessment).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti di Jakarta, Sabtu, mengatakan pihaknya terus memperkuat transformasi kualitas pendidikan melalui pendekatan Belajar Mendalam yang mendorong proses belajar menjadi lebih sadar (mindful), bermakna (meaningful), dan menyenangkan (joyful).

Menurut Mu’ti, pendekatan tersebut didukung dengan penguatan kompetensi guru di bidang kecerdasan artifisial (AI), coding, STEM, dan pendidikan karakter. Transformasi juga diperkuat melalui pengembangan tata kelola data pendidikan, revitalisasi satuan pendidikan, serta pemanfaatan teknologi pembelajaran yang lebih interaktif.

Pendekatan tersebut menempatkan literasi dan numerasi tidak semata-mata sebagai kemampuan membaca atau berhitung. Keduanya diarahkan menjadi fondasi bagi murid untuk memahami informasi, melakukan penalaran, serta menggunakan pengetahuan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan sehari-hari.

Karakter tersebut sejalan dengan asesmen PISA yang tidak hanya mengukur kemampuan siswa mengingat materi pelajaran. Kompetensi siswa juga dinilai dari kemampuan memahami informasi, menganalisis persoalan, melakukan penalaran, serta menerapkan konsep dalam konteks yang berbeda.

Pada kesempatan berbeda, Kepala SMPN 9 Yogyakarta Agus Margono menjelaskan sekolahnya menerapkan program Pendampingan Literasi dan Numerasi yang secara khusus berfokus pada penguatan kemampuan murid berbasis kompetensi PISA.

“Kami menerapkan program Pendampingan Literasi dan Numerasi yang berfokus pada penguatan kemampuan literasi dan numerasi murid berbasis PISA. Program ini diwujudkan melalui pengintegrasian soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) ke dalam asesmen harian, penguatan pembelajaran berbasis proyek dengan pendekatan STEM,” kata Agus Margono.

Penggunaan soal berbasis HOTS menjadi salah satu instrumen untuk mengubah pola belajar murid. Siswa tidak lagi hanya diarahkan menjawab pertanyaan mengenai apa yang diketahui, tetapi juga didorong memahami mengapa suatu persoalan terjadi dan bagaimana pengetahuan yang dipelajari dapat digunakan untuk menyelesaikannya.

Agus menjelaskan, implementasi program berbasis PISA tersebut mulai memberikan dampak terhadap pola pikir dan capaian murid di sekolah. Perubahan signifikan terlihat pada kemampuan berpikir kritis dan cara siswa menghadapi persoalan.

Murid SMPN 9 Yogyakarta tidak lagi sekadar menghafal materi. Mereka mulai mampu menganalisis berbagai persoalan lingkungan dan sosial di sekitar dengan menggunakan pendekatan logis dan matematis.

“Ini berdampak langsung pada peningkatan skor capaian Asesmen Nasional pada indikator Literasi dan Numerasi sekolah, serta peningkatan jumlah murid yang meraih prestasi dalam kompetisi sains dan teknologi,” kata Agus.

Integrasi pendekatan STEM juga memberi kesempatan lebih luas bagi murid untuk menghubungkan teori dengan persoalan nyata. Pembelajaran tidak berhenti pada penjelasan guru di kelas, tetapi dikembangkan melalui eksperimen, proyek, diskusi, serta pemecahan masalah yang membutuhkan kolaborasi lintas mata pelajaran.

sumber : Antara

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |