Independensi BI Dinilai Jadi Kunci Menjaga Stabilitas Rupiah

1 hour ago 2

Uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test calon pejabat Gubernur Bank Indonesia di ruang Komisi XI DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/1/2026). Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai independensi Bank Indonesia (BI) menjadi gerbang terakhir untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai independensi Bank Indonesia (BI) menjadi gerbang terakhir untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional.

“Ketika fiskal kita ini buruk pengelolaannya … seharusnya ada pengawal terakhir yang itu dipegang oleh otoritas moneter yang tidak boleh diintervensi siapa pun dan apa pun,” kata Nailul dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Menurut Nailul, independensi BI penting agar bank sentral dapat menjalankan fungsi menjaga stabilitas moneter dan nilai tukar tanpa tekanan dari kepentingan kebijakan fiskal pemerintah.

Ia mengatakan pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa ketergantungan bank sentral terhadap pemerintah dapat menimbulkan persoalan ketika kebijakan moneter digunakan untuk mendukung kebutuhan fiskal.

Nailul menjelaskan penguatan independensi bank sentral merupakan salah satu pembelajaran dari berbagai krisis ekonomi yang terjadi sejak periode pasca-Perang Dunia.

Menurut dia, pada periode tersebut sejumlah bank sentral masih berada di bawah pengaruh pemerintah karena dibutuhkan untuk mendukung pembiayaan pembangunan dan pemulihan ekonomi pascaperang.

Namun, pengalaman inflasi tinggi kemudian mendorong perubahan paradigma menuju bank sentral yang lebih independen.

Indonesia, kata dia, juga mengalami perubahan tersebut setelah krisis ekonomi 1997-1998. Penguatan independensi BI kemudian dituangkan melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang selanjutnya mengalami perubahan pada 2004.

Nailul menilai independensi tersebut semakin penting seiring terbukanya arus modal.

Menurut dia, ketika arus modal dapat bergerak keluar-masuk dengan cepat, bank sentral membutuhkan kredibilitas untuk menjaga stabilitas moneter dan nilai tukar.

Ia juga mengingatkan risiko apabila kebijakan moneter terlalu diarahkan untuk mendukung kebutuhan fiskal pemerintah. Kondisi tersebut, menurut dia, dapat memicu kekhawatiran pasar terhadap kredibilitas kebijakan dan pada akhirnya mendorong arus modal keluar.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |