
Holding BUMN Dinilai Belum Maksimal, Peran Anak Usaha Disorot (Foto: Kementerian BUMN)
JAKARTA - Sinergi antara holding, subholding, dan anak perusahaan BUMN dinilai masih perlu penguatan agar lebih optimal terhadap kinerja bisnis dan kontribusi bagi negara. Penguatan terutama diharapkan dapat memperjelas peran anak perusahaan sebagai bagian strategis dalam ekosistem usaha BUMN.
Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik Sofyano Zakaria, mengatakan konsep holding BUMN pada dasarnya dirancang untuk menciptakan efisiensi, integrasi bisnis, serta memperkuat daya saing perusahaan negara. Namun dalam praktiknya, implementasi sinergi tersebut dinilai masih belum sepenuhnya berjalan sesuai harapan.
“Sampai hari ini masih terlihat adanya kesan bahwa sebagian holding dan subholding BUMN belum benar-benar menjadikan anak perusahaan sebagai aset strategis yang harus diperkuat secara serius. Anak perusahaan masih sering diperlakukan sekadar pelengkap struktur korporasi,” kata Sofyano Zakaria dalam keterangannya di Jakarta, Senin (11/5/2026).
Menurut Sofyano, pembentukan holding BUMN bertujuan memperkuat kinerja bisnis secara kolektif dan meningkatkan kontribusi terhadap negara. Namun ia menilai, semangat tersebut perlu lebih konsisten diwujudkan dalam praktik operasional.
“Sinergi jangan hanya berhenti menjadi jargon dalam rapat direksi atau presentasi korporasi. Yang dibutuhkan adalah dukungan nyata kepada anak perusahaan agar mereka tumbuh sehat, kuat, dan mampu menghasilkan laba,” tegasnya.
Ia menjelaskan, secara filosofi holding seharusnya berperan sebagai pusat penguatan bisnis, integrasi pasar, efisiensi, serta pembinaan anak perusahaan. Karena itu, hubungan antara holding dan anak usaha idealnya tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga berbasis pengembangan bisnis.
“Kalau holding dan subholding hanya menjadi pengendali administratif dan penarik dividen semata, maka keberadaan holding hanya akan menambah lapisan birokrasi korporasi tanpa memberikan nilai tambah signifikan,” ujarnya.
Sofyano menambahkan, kekuatan holding sangat ditentukan oleh kinerja anak perusahaan di bawahnya. Karena itu, anak usaha perlu diposisikan sebagai bagian penting dalam strategi pertumbuhan grup BUMN.
“Anak perusahaan jangan dipandang sebagai beban atau sekadar unit pelengkap. Mereka harus diposisikan sebagai mesin pertumbuhan yang mampu berkontribusi terhadap laba dan dividen negara,” katanya.
Ia juga menyoroti perlunya peningkatan keterlibatan anak perusahaan dalam berbagai proyek di lingkungan grup BUMN. Menurutnya, penguatan kapasitas tetap menjadi kunci agar sinergi berjalan lebih efektif.
“Sinergi bukan berarti memberikan proyek tanpa kompetensi, tetapi bagaimana holding membantu membangun kapasitas anak perusahaan agar mampu bersaing secara profesional,” ujarnya.
Sofyano menilai perlu adanya kejelasan arah pengembangan anak perusahaan, termasuk mana yang difokuskan sebagai profit center dan mana yang membutuhkan restrukturisasi atau pengembangan bisnis baru.
Ia juga menekankan pentingnya peran holding dan subholding dalam menjaga kesehatan bisnis anak usaha agar tidak mengalami kinerja yang tidak optimal dalam jangka panjang.
“Kalau ada masalah manajemen harus dibenahi, kalau ada masalah model bisnis harus diperbaiki, dan kalau ada kendala pasar maka holding harus hadir membantu membuka akses,” katanya.
.png)
9 hours ago
4















































