IDXChannel - PT Dwimitra Ekatama Mandiri (Dwimitra) menegaskan kesiapannya untuk memperluas jangkauan dan kapabilitas bisnis ke tingkat regional.
Setelah berpengalaman membangun berbagai proyek pusat data (data center) dengan akumulasi kapasitas mencapai sekitar 200 MW sejak 2007, perseroan kini membidik posisi strategis sebagai pelaku industri utama di kawasan Asia Pasifik.
“Dwimitra akan menjadi salah satu pemain besar di industri data center, tidak lagi hanya di Indonesia, tetapi di level Asia Pasifik. Kami sudah memiliki beberapa pekerjaan di luar Indonesia, meski saat ini masih pada lingkup project management seperti konsultasi dan engineering,” kata Chief Commercial Officer Dwimitra Ekatama Mandiri, Oon Suciagung, dalam acara peringatan 25 tahun perusahaan di Fairmont Hotel Jakarta, dikutip keterangannya pada Jumat (28/8/2026).
Pijakan menuju pasar regional tersebut telah dirintis perseroan melalui kerja sama strategis dengan Listenlights Pvt. Ltd., penyedia layanan mekanikal, elektrikal, dan perpipaan (mechanical, electrical, and plumbing/MEP) asal India yang telah berpengalaman lebih dari empat dekade.
“Kami melakukan kerja sama dengan Listenlights Pvt. Ltd. sejak 2024 melalui joint venture bernama Dwimitra Listenlights Indonesia. Ke depan, kami juga berencana melakukan ekspansi di level ASEAN, seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam,” ujar Chief Executive Officer Dwimitra, Ridwan Eddy.
Langkah ekspansi tersebut beriringan dengan makin krusialnya posisi Indonesia di peta industri komputasi awan (cloud computing), kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan pengelolaan data. Ridwan menilai, lonjakan investasi global yang masuk ke tanah air harus diimbangi dengan penguatan kompetensi tenaga kerja dan perusahaan lokal agar industri penunjang nasional mampu bersaing dengan kontraktor internasional.
“Indonesia bukan hanya menjadi tujuan investor data center, tetapi juga menarik perusahaan kontraktor internasional. Karena itu, yang perlu kita bangun adalah bagaimana sumber daya dan perusahaan Indonesia memiliki kapabilitas untuk tetap kompetitif dan menjadi bagian penting dari industri ini,” ujar Ridwan.
Menghadapi persaingan yang kian ketat dari korporasi global dengan keunggulan skala dan efisiensi, peningkatan produktivitas serta penguasaan teknologi menjadi kunci mutlak.
“Indonesia harus meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya. Kita harus semakin kuat dalam teknologi, produktivitas dan efisiensi sehingga perusahaan nasional dapat bersaing secara sehat di pasar sendiri maupun di tingkat regional,” tutur dia.
Potensi besar Indonesia sebagai pusat gravitasi data center di ASEAN dan Asia Pasifik turut diamini oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Ketua Tim Kerja Perumusan Strategi dan Kebijakan Peta Jalan Penyelenggaraan Infrastruktur Digital Komdigi, Benny Elian, menyoroti pentingnya pemerataan ekosistem yang saat ini masih terkonsentrasi di kawasan barat Indonesia, seperti Jakarta, Cikarang, dan Batam.
“Dibandingkan negara-negara lain di ASEAN, Indonesia memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan lahan, sumber daya dan potensi pengembangan yang besar. Karena itu, kami ingin pertumbuhan data center ke depan tidak hanya terpusat di Jakarta, Cikarang maupun Batam, tetapi juga mulai berkembang ke wilayah tengah dan timur Indonesia,” kata Benny.
Untuk mendukung persebaran tersebut, pemerintah tengah merampungkan peta jalan data center yang terintegrasi dengan jaringan kabel serat optik bawah laut agar kesiapan lahan, energi, dan konektivitas dapat terencana matang.
“Harapannya, industri data center Indonesia dapat terus tumbuh secara kuat, tetapi tetap berkelanjutan,” kata Benny.
Di tataran operasional, Dwimitra mengalokasikan kembali sebagian laba usaha untuk membiayai penguatan kompetensi SDM dan adopsi teknologi manajemen proyek. Langkah ini krusial untuk mengelola proyek berbiaya tinggi yang melibatkan ribuan tenaga kerja dengan tenggat waktu penyelesaian yang semakin ketat.
"Pembangunan data center memiliki nilai proyek dan kompleksitas yang sangat tinggi. Karena itu, yang perlu diperkuat adalah kapabilitas sumber daya manusia sekaligus penerapan teknologi agar pekerjaan bisa dilakukan lebih efektif dan efisien,” ujar Ridwan.
Dwimitra kini mengintegrasikan AI, sistem otomasi, serta digital project management melalui dashboard terpadu dan fitur pengingat otomatis guna memantau produktivitas di lapangan serta mengantisipasi kendala teknis sedini mungkin.
“Dengan jumlah pekerja yang bisa mencapai ribuan orang di lapangan, kita tidak bisa hanya bergantung pada proses manual. Sistem membantu memberikan reminder dan dashboard agar kita memahami apa yang terjadi di lapangan dan dapat mengambil keputusan dengan lebih cepat,” kata Ridwan.
Oon Suciagung menggarisbawahi bahwa integrasi teknologi digital ini harus tetap ditopang oleh kapabilitas teknis dan rasa kepemilikan (ownership) dari setiap tim proyek, sekaligus memperkuat transparansi dengan pelanggan, pemasok, dan subkontraktor.
“Tantangannya adalah bagaimana membangun data center sesuai timeline dengan kualitas yang tetap baik. Karena itu, support dari sisi engineering, kalkulasi hingga eksekusi harus semakin kuat agar risiko delay bisa ditekan,” kata Oon Suciagung.
Dari aspek pasokan kelistrikan, Vice President Priority Account Executive Swasta dan Bisnis PT PLN (Persero), Fauzi Arubusman, memaparkan bahwa sektor data center kini telah masuk dalam jajaran 10 besar segmen bisnis dengan konsumsi listrik tertinggi di Indonesia.
Saat ini, PLN melayani 153 pelanggan data center dengan total daya terpasang sekitar 2.000 MVA, di mana 137 pelanggan berada di sistem Jawa-Bali.
“Dwimitra sendiri telah terlibat dalam berbagai pembangunan proyek data center sejak 2007 dengan total kapasitas sekitar 200 MW. Skala tersebut menunjukkan besarnya kontribusi yang dapat diberikan pelaku industri seperti Dwimitra dalam mendukung pertumbuhan ekosistem data center nasional,” ujar Fauzi.
PLN memastikan kesiapannya menyediakan infrastruktur kelistrikan yang andal serta pasokan energi hijau guna mendukung standar keberlanjutan industri pusat data.
Sementara itu, Senior Sales Director Singapore, Indonesia, Brunei, dan Timor-Leste Uptime Institute, Laurensius Then, menilai kapabilitas Indonesia dalam konstruksi data center telah sejajar dengan pasar regional seperti Malaysia, yang dibuktikan oleh tingginya perolehan sertifikasi berstandar internasional.
Kendati demikian, ia mengingatkan ketersediaan tenaga profesional untuk fase operasional jangka panjang masih menjadi tantangan utama.
“Market Indonesia sangat siap dan kita sudah on par dengan Malaysia. Kita sudah belajar bagaimana membangun data center. Tetapi persoalannya, kita bisa membangun sementara resource untuk mengoperasikan belum tentu mencukupi. Karena itu, aspek sumber daya manusia yang mumpuni menjadi sangat penting,” kata Laurensius Then.
Memasuki usia perak ke-25 tahun, Dwimitra mengonsolidasikan kesiapan ekosistem digital, keandalan energi, penguatan kapasitas SDM, serta kemitraan global sebagai landasan utama untuk membawa kompetensi rekayasa konstruksi Indonesia bersaing di pentas Asia Pasifik.
(kunthi fahmar sandy)
.png)
3 hours ago
1
















































