REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Langit belum benar-benar terang di Bandung ketika percakapan itu dimulai. Pada 13 Mei 2026 dini hari, jurnalis Republika, Thoudy Badai, menerima pesan dari ibundanya, Hanifa Humanisa.
“Keyakinan Ody mau berangkat berapa persen?” tulis Hanifa pada cakapan Whatsapp yang ia kirimkan ke Republika. Waktu pada pesan itu tercatat pukul pukul 03.46 WIB. Perempuan itu menggunakan panggilan sayangnya untuk sang putra.
Perempuan 56 tahun itu ada di Bandung, kota tempat puluhan negara yang baru bebas dari kolonialisme menjanjkan kemerdekaan Palestina, 71 tahun lalu. Sementara putranya tengah bersiap di pelabuhan di Marmaris, Turki, bersama ratusan relawan dari barbagai belahan dunia yang berikhtiar membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza lewat laut.
Di balik kalimat singkat itu, tersimpan kegamangan yang sulit diterjemahkan. Putranya sedang mempertimbangkan keputusan besar: ikut berlayar bersama Global Sumud Flotilla 2.0, misi kemanusiaan internasional yang berupaya menembus blokade Gaza.
Beberapa menit kemudian, Hanifa kembali bertanya. Kali ini lebih dalam.
“Bagaimana keyakinan dan kesiapan Ody?”
Thoudy menjawab dengan hati-hati. “Insha Allah 80 persen Mam.. tapi semua keputusan Mama, Ody yakin harus ditaati. Karena itu sebaik-baiknya jalan.”
Jawaban itu menunjukkan dua hal sekaligus: tekad dan kepatuhan. Ada semangat besar dalam diri Thoudy untuk ikut dalam misi kemanusiaan tersebut, tetapi di saat yang sama, ia masih menempatkan restu ibunya sebagai penentu akhir.
Hanifa memahami itu. Maka ia pun menanyakan sisi yang paling ditakuti setiap orang tua: risiko.
“20 persen ada resiko yang kurang bagus ya?”
Thoudy tidak menutupi kenyataan. Ia tahu pelayaran menuju Gaza bukan perjalanan biasa. Ancaman intersepsi Israel, penahanan, bahkan stigmatisasi sebagai “teroris” telah dialami sejumlah aktivis sebelumnya.
“Resiko ada Mam. Ini yang dihadapin Zionis,” jawab Thoudy. Namun ia mencoba meyakinkan sang ibu dengan contoh para aktivis lain yang akhirnya dapat lolos karena tekanan internasional.
Thoudy akhirnya memutuskan menyertai kapal itu hari. Pada Senin (18/5/2026), benar saja kejadian. ia bersama penumpang dan awak kapal Ozgurluk yang ia naiki dibajak Israel di perairan Siprus. Titiknya sekitar 250 mil laut dari tujuan mereka di Gaza.
.png)
3 hours ago
4















































