Bupati Jeje akan Kembangkan 'Apartemen Magot' yang Digagas ITB, Jadi Solusi Pengolahan Sampah

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Pengelolaan sampah, hingga saat ini masih menjadi persoalan di Jawa Barat (Jabar). Namun, Kabupaten Bandung Barat (KBB), mulai memiliki solusi untuk mengatasi persoalan sampah ini.Yakni, dengan pendekatan lebih sederhana tapi bernilai ekonomi melalui pengembangan 'apartemen' ayam yang didalamnya ada budi daya magot.

Program apartemen magot ini, dibuat hasil kerja sama Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan PT Bank Mandiri Taspen dan Pemkab Bandung Barat. ITB, membangun fasilitas budi daya unggas terpadu dan pengelolaan sampah organik melalui magot alias larva black soldier fly (BSF).

Program Corporate Social Responsibility (CSR) ini, dibuat untuk menciptakan manfaat berkelanjutan, mendorong kemandirian masyarakat, sekaligus menghadirkan solusi terhadap persoalan lingkungan sekitar.

Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail mengatakan, pengembangan apartemen magot ini sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi persoalan sampah di wilayahnya.

Jeje mengakui, sampah merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi Bandung Barat sehingga membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan sektor perbankan.

"Dengan adanya kerja sama ini, saya berharap ke depannya bisa diekspansi ke seluruh kecamatan di Bandung Barat," ujar Jeje, saat ditemui di Apartemen Magot, Dago Giri, Bandung Barat, Selasa (18/8/2026).

Pengembangan apartemen magot,akan didukung dengan pelatihan agar masyarakat mampu mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi. Program ini diharapkan tidak berhenti sebagai percontohan, tetapi juga bisa direplikasi di berbagai wilayah.

"Kalau memungkinkan, kami berharap program ini bisa dikembangkan di 16 kecamatan dan 165 desa di Bandung Barat," kata Jeje.

Konsep apartemen magot ini relatif mudah direplikasi selama tersedia lahan yang sesuai. Lokasi fasilitas umum dinilai menjadi salah satu pilihan yang ideal karena pengelolaannya dapat dilakukan secara bersama dan manfaatnya langsung dirasakan masyarakat.

Menurut Penggagas apartemen magot dari ITB, Dr Linus Ampang Pasasa, M.S, teknologi ini memanfaatkan larva lalat tentara hitam (black soldier fly/BSF) atau magot untuk mengurai sampah organik dalam waktu relatif singkat.

Sampah yang diolah, kata Linus, kemudian menghasilkan magot yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ayam. Teknologi tersebut, mampu mengurai sampah organik hanya dalam waktu sekitar dua hari."Kalau kita memasukkan sampah ke dalam sistem ini, dua hari itu sudah terurai," ujar Linus.

Menurut Linus, teknologi tersebut tergolong sederhana dan konvensional, tetapi memiliki kemampuan pengolahan sampah yang cepat dengan biaya relatif murah.

Ia menuturkan, satu unit apartemen magot membutuhkan biaya sekitar Rp 45 juta dan dapat digunakan untuk memelihara hingga 100 ekor ayam dengan dimensi lahan sesempit 1x6 meter.

Namun, kata dia, jumlah ayam dalam satu unit saat ini baru sekitar 40 ekor. Karena, pasokan sampah organik yang tersedia masih terbatas. "Kalau jumlah ayam terlalu banyak sementara sampahnya sedikit, tentu akan kekurangan makanan," kata Linus.

Linus mengatakan, kapasitas pengolahan sampah dapat mencapai sekitar 250 kilogram per hari, tergantung jumlah unit dan pasokan sampah organik yang tersedia.

Sampah organik tersebut, kata dia, tidak hanya dapat berasal dari rumah tangga, juga sektor hotel, restoran, dan kafe (HOREKA). "Di sini kami siap menampung sampah dari HOREKA. Sampah mereka belum tentu semuanya diolah," katanya.

Selain mengurangi timbulan sampah organik, sistem tersebut juga menghasilkan produk turunan berupa magot dan telur ayam yang memiliki nilai ekonomi.

Magot, dapat dimanfaatkan sebagai pakan ayam. Sedangkan telur yang dihasilkan, nantinya dapat dijual untuk membiayai operasional kelompok pengelola atau dimanfaatkan untuk kepentingan sosial masyarakat.

"Telurnya mau dijual untuk biaya yang mengurus atau dibagi-bagi untuk penanganan stunting melalui puskesmas dan sebagainya. Tinggal bagaimana manajemennya," kata Linus.

Program apartemen magot ini, mendapat dukungan dari Bank Mandiri Taspen sebagai bagian dari upaya memberikan aktivitas sekaligus peluang ekonomi bagi para pensiunan.

Menurut Direktur Utama Bank Mandiri Taspen, Panji Irawan, pihaknya melihat pengelolaan sampah organik berbasis magot sebagai salah satu kegiatan produktif yang dapat melibatkan para pensiunan.

Panji mengatakan, konsep tersebut menciptakan ekosistem ekonomi. Sampah organik dari masyarakat diolah menjadi pakan magot, kemudian magot digunakan sebagai pakan ayam hingga menghasilkan telur.

"Para pensiunan nantinya bisa mengisi hari-harinya dengan berbagai aktivitas. Misalnya ikut membersihkan lingkungan dan berkolaborasi dengan warga," kata Panji.

Bank Mandiri Taspen juga, kata dia, siap memberikan dukungan pembiayaan bagi pensiunan yang ingin terlibat kegiatan produktif tersebut. Sebagai gambaran, bank Mandiri Taspen memiliki paket pembiayaan usaha bagi pensiunan dengan nilai sekitar Rp 45 juta.

Pembiayaan tersebut, nantinya bisa disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan usaha berbasis pengolahan sampah. Selain pembiayaan, para pensiunan juga akan mendapatkan pelatihan dan pendampingan dari tenaga ahli.

"Sudah ada ahlinya yang akan bekerja sama dengan kami yang menjadi mentor dan coach. Ada use case yang bisa dijadikan percontohan," katanya.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |